PERS DAN MEDIA

MEMBANGUN TALKSHOW

Eddy Koko
Produser Talkshow Polemik Radio Trijaya 2005-20013

PEKAN lalu ada undangan ikut serta acara talkshow online. Sekarang sedang marak talkshow online atau webinar karena banyak orang harus di rumah akibat wabah korona. Oleh sebab si pengundang sahabat baik, saya pun ikut serta duduk depan laptop. Tiba-tiba pemandu acara mempersilakan peserta berdiri untuk menyanyikan lagu Indonesia Raya. Sempat serbasalah sejenak, tapi langsung saya tutup kamera laptop. Pasalnya, walau mengenakan baju rapi berikut peci, terlihat sopan di layar, saya pakai celana kolor.

Hampir setiap hari ada undangan, baik sebagai pembicara atau penggembira talkshow online. Dalam sehari bisa dua sampai tiga talkshow online digelar. Meskipun pergerakan orang terbatas, diskusi tetap berlangsung sebagai salah satu cara memecahkan problem kehidupan masyarakat menggunakan teknologi komunikasi, itu luar biasa. Sekarang ini tidak ada batas wilayah dan waktu menghalangi orang untuk menyelenggarakan talkshow dan sebetulnya orang kita memang suka bicara.

Tapi dari begitu maraknya talkshow online, banyak yang tidak menarik atau membosankan. Mengapa? Dari pengalaman sembilan tahun (2005-2013) mengelola acara Radio Trijaya dengan nama talkshow Polemik, setiap Sabtu pagi, yang direlai 47 stasiun radio di berbagai kota Indonesia, memang tidak mudah. Kecuali jika hanya ingin acara tersebut asal ada untuk menutup jadwal siaran tanpa mempertimbangkan pas tidaknya topik berikut kualitas pembicaranya. Ukuran talkshow Polemik digarap dengan serius, memenuhi keingintahuan masyarakat tentang suatu isu, hal itu dapat dilihat dari begitu banyak pendengar yang ikut berkomentar. Talkshow ini juga diliput hampir semua stasiun televisi nasional, media cetak, media online , termasuk media radio di luar grup Trijaya FM .

Mencermati begitu banyak talkshow online , saat ini terlihat banyak yang dikemas secara asal atau sekadar ikutan zaman, padahal topik yang diangkat cukup bagus. Sebagian talkshow menampilkan pembicara kurang menguasai masalah, tidak piawai menjelaskan, termasuk memasang moderator yang tidak memahami posisinya. Sebagai gambaran, tidak semua penyiar mampu jadi moderator atau sebaliknya. Pernah seorang ekonom terkenal menjadi pemandu acara ekonomi di televisi nasional, tetapi lupa posisinya sehingga lebih banyak omong daripada tamunya.

Pemandu acara talkshow sering juga disebut anchor (jangkar). Mengapa disebut jangkar? Karena tugasnya menjaga agar lajunya kapal tidak keluar dari jalur, yaitu berarti pembicaraan tidak keluar dari topik, jangan sampai ngalor-ngidul, sehingga durasi dan simpulan bisa didapat dengan pas. Jangkar atau moderator talkshow harus menguasai masalah, tahu kapan memotong narasumber bicara dengan luwes, mengingatkan kembali ke topik, bahkan berani menegur pembicara yang menyerang fisik orang lain.

Pemilihan Topik dan Pembicara
Menentukan topik pun perlu jeli disertai riset kecil mengenai ketertarikan masyarakat terhadap sebuah isu. Selalu memantau berita di media massa dan diskusi dengan banyak pihak. Sering terjadi topik bagus, tetapi pembicara buruk meskipun terkenal sehingga talkshow ditinggalkan orang dan gagal. Sebab perlu disadari, seorang perancang acara (produser) bukanlah manusia super yang paham segala hal, sementara talkshow-nya membahas berbagai topik, dari isu politik, budaya, ekonomi hingga olahraga dan sebagainya. Maka produser perlu teman berpikir. Membangun jaringan (sebagai think tank) dengan banyak orang dari berbagai pengetahuan seperti pengamat, akademisi, tokoh masyarakat, birokrat dapat dijadikan ruang diskusi untuk membahas isu apa yang menarik dan siapa pembicara yang cocok.

Banyak talkshow yang menampilkan pembicara itu-itu saja karena terkenal adalah tidak salah. Tapi masyarakat juga perlu diberi pandangan berbeda mengenai sebuah isu dari pengamat lain. Sangat banyak akademisi, tokoh masyarakat, praktisi, birokrat yang bagus dalam memandang suatu persoalan, tetapi lantaran tidak terkenal tidak diundang bicara. Ini kesalahan yang banyak dilakukan penyelenggara talkshow karena takut acaranya tidak didengar atau ditonton jika menampilkan narasumber tidak populer. Padahal jika bisa mengombinasikan yang terkenal dengan belum terkenal, nantinya menjadi populer juga. Talkshow Polemik itu waktu memunculkan banyak nama semula juga tidak dikenal, tetapi lalu menjadi populer dan menjadi bintang talkshow di berbagai media televisi serta dikutip media cetak dan online .

Tidak sulit mencari orang pandai dan bagus bicara, apalagi sekarang alat komunikasi begitu hebat sehingga pendapat seseorang bisa diketahui secara luas. Pasang kuping dan buka jaringan ke kampus-kampus dengan para akademisi, aktivis, pengamat, dan lainnya, niscaya akan menemukan pembicara hebat dan unik. Salah satu contoh, pada suatu episode membahas kualitas kacang kedelai Indonesia, talkshow Polemik menghadirkan pembicara Dr Jonathan, seorang ahli gizi dari Inggris yang tinggal di London, tetapi sangat paham tentang tempe. Selain melakukan penelitian tentang tempe di Indonesia, Jonathan juga membuat tempe di London dan dijual di sana. Maka talkshow menjadi menarik karena ada pembicara yang tidak biasa.

Ketika mendapat satu nama baru, langkah selanjutnya mengajak ngobrol seraya minum kopi. Melalui perbincangan santai ini akan terlihat seberapa dalam ia menguasai bidangnya? Penting juga menyimak kemampuan menjelaskan secara runut sesuai dengan bidangnya. Jika piawai, satu narasumber sudah ditemukan lagi. Masukkan dalam “kantong”, suatu hari nanti diundang dalam talkhsow dengan topik yang sesuai dengan keilmuannya. Banyak akademisi atau pakar bagus dalam menulis artikel di media, tetapi bicara berputar-putar sehingga talkshow menjadi tidak efektif. Pembicara seperti ini, selain membuat moderator kleyengan harus selalu mengarahkan pembicaraan, juga bikin durasi talkshow yang terbatas akan habis tanpa menghasilkan simpulan yang diharapkan.

Harus Berkala
Durasi talkshow sebaiknya satu setengah jam sampai dua jam dengan tiga atau empat pembicara dari berbagai sudut pandang ditambah memberikan ruang kepada penonton ikut bicara. Talkshow online memang tidak terikat oleh waktu alias bisa berjam tayang tidak ada yang melarang selama sanggup bayar data internet. Tapi durasi talkshow yang panjang cenderung berputar-putar pembahasannya, bias, pesan yang disampaikan susah terekam penonton. Menutup talkhsow tepat waktu, meskipun penonton masih tertarik, akan menambah penasaran mereka sehingga menunggu talkshow berikutnya. Jangan baru berhenti makan setelah kenyang, begitu pendapat orang bijak.

Salah satu faktor acara talkshow tidak dikenal masyarakat adalah karena tidak konsisten dalam kepastian jadwal tayang. Tantangan membangun talkshow yang baik adalah mampu hadir secara berkala, konsisten, dan berbobot. Misal talkshow diselenggarakan setiap hari Minggu pukul 10.00, maka setiap hari dan jam yang sama wajib ada sehingga masyarakat dapat mengingat dan menjadwalkan waktunya setiap minggu. Jika jadwal acara berubah-ubah atau antara episode satu dengan selanjutnya cukup lama jedanya, orang cenderung lupa. Ketika talkshow dikelola secara serius, disukai masyarakat, acara tersebut menjadi hidup. Talkshow yang populer dan bermutu akan mudah menghadirkan pembicara sekelas apa pun.

Lewat artikel ini saya titip salam hormat dan terima kasih kepada mereka yang pernah mengisi dan memeriahkan talkshow Polemik yang saya produseri. Mereka semua orang hebat dan terbukti menjadi bintang. Sampai sekarang.
(ras)

talkshow yang dikelola dengan serius dapat dipercaya masyarakat dan mudah mengundang nara sumber

artikel diterbitkan Koran Sindo edisi 9 Juli 2020
https://nasional.sindonews.com/read/93664/18/membangun-talkshow-online-1594134467

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Close
Close