Video »

Video Lainnya:

Update: 11 September 2015
Hari Radio Nasional 11 September, Kalau Pak Jokowi Pidatolewat Radio

“Lagu ini saya kirimkan untuk Bapak Jokowi yang sedang mendengarkan radio dengan ucapan salam kompak selalu. Jangan lupa minum jamunya, Pak,”

            Begitukira-kiraucapan yang terdengar dalam acara Pilihan Pendengar stasiun radio pada tahun tujuhpuluhan atau delapanpuluhan. Suara penyiar yang empuk dengan tutur bahasa apik menambah akrab suasana saat mendengarkan siaran radio. Kesan komunikasi personal sungguh terasa antara pendengar dan penyiarnya. Pendeknya, radio siaran merupakan teman sejati rakyat pada masa itu. Apakah sekarang tidak temanlagi?

            Tanggal sebelas September dianggap sebagai Hari Radio Nasional. Ada yang mendebat kurang tepat, alasannya, tanggal tersebut sebagaiharinya Radio Republik Indonesia, lebih dikenal dengan RRI. Tapi ada yang sepakat sebab RRI merupakan satu-satunya radio siaran pada masa kemerdekaan. Lewat corong  RRI naskah Proklamasi Kemerdekaan RI pertamakali “diudarakan”. Lama kemudian muncul radio siaran swasta niaga dalam bentuk AM dan FM.Kalau dulu Indonesia lahirhanya ditemani satu radio siaran sekarang, pada usianya yang ketujuh puluh, tidak kurang dari tigaribu radio siaran menemaninya. Tapi bagaimana peran radio siaran sekarang dalam mengisi kemerdekaan?

            Sejatinya, radio siaran sejak dulu sampai sekarang merupakan media yang setia kepada negeri. Buktinya, banyak yang kembang kempis hidupnya, terseok-seok bahkan kadang nyala kandang tidak tetap berusaha bangkit. Untuk apa? Ya, menghibur rakyat yang lebih banyak susah ketimbang senang. Jangan lihat radio siaran yang di Jakarta tetapi tengoklah kondisi di daerah bahkan di pedalaman.  Rakyat yang sedang sedih oleh sebab tidak bisa beli nasi diperdengarkanlah lagu kesukaannya melalui radio siaran. Minimal gendang telinganya kenyang dan hati senang sejenak. Kalau disuguhi gambar hidup yang muluk-mulukmelulu, yang penuhmimpi? Bisa, lho, menjurus kepadahalkurangbaik. Bisamakinsusah. 

Dalam membantu pemerintah menginformasikan atau mensosialisasikan programnya, radio siaran paling di depan menembus wilayah yang tidak bisa di jangkau media lain. Ini salah satu bukti pentingnya radio dalam mengisi kemerdekaan. Semua sudah tahu, Indonesia merupakan negeri terdiri dari pulau-pulau dan lebih banyak yang terpencil maka media radio siaran paling efektifdimanfaatkan sebagai pemersatu. Sayangnya, masih banyak kalangan tidak “sadar radio”. Bahkan pemerintah atau pejabatnya lebih suka masuk televisi atau koran dibanding media radio. Masuk radio? Kuno!

Sebagai alat atau media propaganda radio tergolong cukup dasyat dan murah.  Contoh pemanfaatan radio adalah ketika Bung Tomo mengobarkan semangat pejuang Arek Suroboyo dalam melawan penjajah sampai sekarang tetap menjadi bahan ceritera. Bung Karno dalam menyampaikan pesan-pesannya kepada rakyat di seluruh Indonesia banyak melalui siara radio. Pada zaman Pak Harto, semua radio siaran swasta, jam tertentu, wajib melakukan siaran bersama dengan RRI, sebagai cara menyampaikan pesan pemerintah kepada rakyat. Terlepas suka atau  tidak suka dengan kewajiban tersebut tetapi dibalik hal itu, menandakan, ada pengakuan terhadap kemampuan media radio siaran. Setelah era reformasi kewajiban relay RRI tidak dilakukan lagi dan masing-masing radio siaran swasta mencoba membangun ruang redaksi dan menyampaikan berita sendiri. Ada yang sukses tetapi lebih banyak sekedar ada.

Saat ini, meskipun media sosial seperti facebook, tweeter, internet begitu populer bahkan sampai melibas media cetak tetapi radio tetap didengar dan dibutuhkan. Seorang peneliti kenamaan di Amerika Serikat, Mark Kasoff, pada Juli 2015 mewawancarai 704 orang berusia 18-64 tahun yang hasilnya, sebanyak  47% orang mengakui, mendengarkan radio merasa dirinya jauh lebih baik. Kemudian 39% orang menilai sedikit lebih baik. Hanya 9% yang berpikir mendengarkan  radio membuatnya lebih buruk. Ada juga yang ekstrim, mendengar radio akan merasa dirinya jauh lebih buruk yaitu sebanyak 2%. Boleh jadi yang 9% dan 2%waktu diwawancarai kebetulan sedang sakit gigi. Mungkin, lho.

Bagaimana di Indonesia? Ada yang pesimis ada yang optimis. Namun setiap pagi dan sore, di kemacetan Jakarta, para pengendara mobil setia mendengarkan radio sebagai teman hiburan dan mencari informasi. Baik mendengarkan infromasi lalu lintas maupun berita politik, ekonomi dan lainnya serta tidak ketinggalan lagu sebagai penghibur dalam perjalanan. Ketika survey kecil-kecilan dilempar kepada komunitas anak Transmigran yang tergabung dalam Perkumpulan Anak Transmigran Indonesia (PATRI) dengan pertanyaan, apakah setiap hari masih mendengarkan radio? Dari 84 orang, sebagian besar tinggal di kawasan transmigran yang jauh dari pulau Jawa menjawab, masih selalu mendengarkan radio siaran dan menjadi teman sehari-hari.

Blusukan Radio

Jika membaca survey di AS tempat embahnya internet terbukti, radio masih diminati. Juga di pedesaan kawasan transmigran Indonesia, dimana masyrakatnya belum semua melek internet, terungkap radio masih menjadi “teman”. Dari dua contoh kecil tersebut dipastikan, radio siaran tetap hidup, diminatidan dinikmati meskipun media sosial lainnya bermunculan. Pendeknya, radio masih sahabat rakyat. Fakta tersebut, semestinya bisa juga dimanfaatkan Presiden Jokowi melakukan belusukan melalui radio. Dengan blusukan langsung ke lapangan tidak semua daerah bisa dijamah tetapimelalui siaran radio, dipancarkan keseluruh wilayah dengan cara siaran bersama, wejanganatau dialog presiden juga menteri akan mampu menjamah semua orang, terutama yang belum sempat diblusuki.

Survey juga membuktikan, sebanyak 65 persen orang mendengarkan radio sambil melakukan kegiatan sehari-hari. Ada yang nyambi jualan di pasar, menoreh getah karet, mengemudi, masak atau makandan lain sebagainya. Itu tidak termasuk yang khusus mendengarkan radio tanpa beraktivitas. Mendengarkan radio mampu membentuk karakter seseorang karena proses medianya dari telinga langsung ke otak.

Meskipun mendengarkan radio merupakan hal positif tentu ada juga yang menyalahgunakan media radio sebagai hal kurang mendidik. Seperti tahun sembilan puluhan di Bandung yang muncul Radio Togel (judi/toto gelap), siaran tiap malam dinihari pukul 01.00-02.00 saja. Isi siarannya, tentu hanya bicara seputar ramalan judi dan angka alias nomor “buntut” yang keluar berdasarkan undian hari itu. Setelah menyampaikan nomor buntut yang keluar siaran radio langsung menghilang. Tidak ada lagu penghibur untuk pendegarnya yang meraung-raung meratapi uangnya habis karena gagal meraih mimpi.

Salah satu contoh siaran radio yang positif dari para pejabat negeri di era keterbukaan sekarang ini adalah seperti dilakukan Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo,melakukan “blusukan radio” secara rutin. Ganjar berdialog dengan warganya, lewat acara Mas Ganjar Menyapa (MGM) di Radio Trjaya Semarang live dari rumahnya, pagi hari, sebelum ngantor.  Tahun 2005 Gubernur DKI Jakarta, Bang Yos, melalui radio, juga melakukan sosialisasi tentang proyek Trans Jakarta yang mendapat tentangan banyak orang. Setiap Kamis pagi, selama hampir setahun, sambil sarapan di rumahnya,  Bang Yos menjawab semua pertanyaan pendengar seputar Trans Jakarta dan persoalan DKI secara langsung melalui Radio Trijaya Jakarta dalam acara “Bang Yos Mendengar”. Trans Jakarta pun sukses.

Jika presiden dan menteri melakukan seperti yang dilakukan Ganjar Pranowo lewat “MGM” atau Bang Yos lewat “Bang Yos Mendengar”, niscaya akan banyak masukan nyata dari rakyat atau daerah bisa didapat sebagai materi mengelola negara. Rakyat  akan senang bisa  berdialog dengan presidennya. Program revolusi mental juga sangat pas lewat radio.  Kehidupan radio siaran di daerah pun akan menjadi lebih hidup jika dilirik para revolusioner mental karena persoalan bukan hanya di Jakarta. Apalagi siaran radio sekarang tidak hanya bisa didengar melalui pesawat radio tetapi juga pesawat handphone dan laptop dalam bentuk siaran streaming.

Memanfaatkan radio atau siaran di radio sangat gampang, bisa dilakukan kapan saja jika mau. Juga bisa sambil duduk dimana saja. Minum teh sambil sarungan juga bisa siaran untuk radio. Maka agar radio di Indonesia termanfaatkan dan makin hidup, monggo Pak Jokowidan para menteri memanfaatkan media radio.

  • Eddy Koko  (pernah Pemred & SM Radio Trijaya Network)


Dibaca: 01376 kali
   »
   »