Video »

Video Lainnya:

Update: 23 / 08 / 2015
Menikmati Keroncong dalam Festival Jazz Tangsel

Koran Sindo edisi 22 Agustus 2015


Ada musik keroncong juga di festival musik jazz? Ada. Itu bisa ditonton dalam acara Tangsel (Tangerang Selatan) Jazz Festival atau TJF 2015, tanggal 15 - 16 Agustus, pekan lalu, di kawasan perumahan baru, Pondok Cabe, Tangerang Selatan. Bukan hanya keroncong tetapi juga artis dan musik pop ikut dihadirkan. Itu biasa, namanya bisnis hiburan. Yang kurang adalah panitia tidak mempertontonkan musik dangdut. Mungkin lupa. Kalau saja tidak lupa menghadirkan dangdut, dipastikan TJF bisa  ramai penonton.

          Menarik menyimak peristiwa dalam TJF yang kedua ini. Panggung musik keroncong faktanya cukup mendapat sambutan penonton. Ini bisa dilihat dari semua kursi yang disediakan panitia di depan panggung terisi penonton. Tepuk tangan selalu ada ketika Sundari Sukoco menyelesaikan  lagunya, antara lain Bandar Jakarta, Getuk, Jangkrik Genggong, Kroncong Kemayoran dan lainya. Sundari betul-betul menyanyi dengan cengkok kroncong asli bukan lagu keroncong dibawakan dalam irama jazz.

          Meskipun meskipun musik keroncong cukup menghibur, tetapi penggemar musik jazz yang sengaja  datang  ke pertunjukan musik jazz, boleh jadi, sempat bingung. Jangan-jangan salah masuk festival? Untunglah, usai pertunjukan kroncong selanjutnya di panggung lain langsung menghadirkan Barry Likumahua dan kawan-kawannya. Bahkan tidak tanggung-tanggung bapaknya, Benny Likumahua, juga ikut main bersama Barry. Ini baru jazz. Berarti tidak salah masuk festival.

          Penampilan Barry Likumahua dengan sejumlah anak muda di panggung dalam Barry Likumahua Experiment, malam itu, cukup mengesankan. Kepiawaian masing-masing pemain dalam menguasai alat music yang dimainkan sungguh mampu membangun komposisi jazz yang unik. Eksperimen yang enak didengar  dan ditonton. Gaya permainan Barry di panggung begitu energik mampu membangun emosi penonton dalam festival jazz. Pendeknya, Benny Likumahua muda pun kalah dalam aksi.

Menarik juga menonton peniup trumpet dari Barry  Likumahua Experiment, Jordy Revilian Waeluruw alias Jordi Trumpet yang gaya dan wajahnya mirip Jon Faddis peniup trumpet dari geng Dizzy Gillespie. Keduanya memiliki rambut kribo dan menggunakan trumpet bengkok seperti yang dipakai Dizzy Gillespie. Namun Faddis pada kemudian hari  tidak lagi menggunakan trumpet bengkok. “Saya juga senang Jon Faddis. Juga Wynton Marsalis, Roy Hargrove. Tapi lebih banyak mendengarkan Milles Davis,” kata Jodi saat ditanya seputar dunia jazz trumpet.

Selain Barry Likumahua, dalam daftar musisi  juga sejumlah bintang jazz ikut tampil dalam Tangsel Jazz Festival 2015, seperti Idang Rasjhidi, Yance Manusama, Margie Siegers, Ermy Kulit dan lainnya. Dari artis jazz, kemudian yang “agak ngejazz” sampai artis pop ikut dihadirkan dalam festival yang berlangsung dua malam berturut-turut.

Idang tampil pada malam pertama bersama kelompoknya mengiringi penyanyi Komala Ayu. Idang juga merupakan artis jazz yang cukup dinanti penggemar musik jazz. Dengan iringan Idang dan kawan-kawan, Komala Ayu tampil cukup baik dengan olah suara dan kemampuan melakukan scat singing yang dimilikinya. Khas Idang, ia banyak tampil dengan anak-anak muda berbakat.

 Komunitas Jazz

Secara umum penyelenggaraan Tangsel Jazz Festival cukup bagus dari pemilihan lokasi dan penggunaan peralatan suara. Permainan musik para musisi atau setiap panggung cukup baik dan jernih. Namun sangat disayangkan festival musik ini harus terganggu dengan ketidakprofesionalan panitia dalam mengatur jadwal main setiap panggung. Sebagai contoh, dalam waktu bersamaan, dua panggung bersebelahan, main dengan power cukup besar, yaitu The Groove dan Barry Likumahua Experiment.

Akibat ketidakpahaman atau keteledoran panitia dalam menjadwalkan dua  panggung bersebelahan show, bisa dibayangkan, bocor suara, saling tindih tidak terelakan. Beruntung Barry memainkan fungky jazz sehingga tidak begitu tenggelam oleh musik The Groove, walau tetap tidak nyaman untuk musisi dan penonton. Bayangkan, jika panggung Barry Likumahua memainkan jazz standard beradu dengan musik rock di sebelah, dipastikan pertunjukan bisa berhenti karena percuma. Penonton dan musisi bisa kecewa. Sebuah pelajaran penting para penyelenggara festival musik.

Musik jazz pada perkembangannya semakin luas dan tidak hanya di perkotaan saja tetapi merambah ke kota-kota kecil. Ini sangat mengembirakan untuk pengemar musik jazz yang pada dua dekade lalu masih terkotak-kotak dalam komunitas kecil. Hadirnya Tangsel Jazz Festival diharapkan tidak sekedar dijadikan ajang bisnis semata, tetapi mampu memunculkan, menggalang dan mengandeng komunitas jazz di wilayahnya. Tangsel yang pada sejarahnya adalah kebun karet, dalam waktu singkat, menjadi kota satelit maju. Maka  dipastikan juga menjadi kota berkumpulnya para penggemar musik jazz. Bahkan jika diamati bukan hanya penggemar musik jazz tetapi juga para musisinya banyak tinggal di Tangsel, seperti Benny Likumahua, Jefrry Tahalele dan lainnya. Juga banyak pertunjukan music jazz secara regular di kawasan Tangsel, seperti di Bumi Serpong Damai (BSD) dan sekitarnya menampilkan anak-anak muda berbakat.   Dengan kondisi tersebut maka kedepan festival jazz yang baik diharapkan bisa terlaksana sehingga mampu mengangkat nama Tangsel lebih baik lagi.

Eddy Koko -  Penikmat Musik Jazz



Dibaca: 00983 kali
   »
   »