Video »

Video Lainnya:

Update: 09 Maret 2015
Jazz Ngisor Ringin sampai Kedai Susu Kambing

SUATU masa di tahun 2001 sekelompok jetset, ada direktur bank, pengusaha dan pensiunan tapi kaya berkumpul di Hotel Kemang Jakarta. Komunitas banyak uang yang suka dansa dansi ini menggelar acara jazz menghadirkan hampir semua musisi jazz senior Indonesia. Dasyat! Selesai acara musik jazz jam 22.30 langsung grup rockn roll beraksi mengiringi mereka
melantai. Saat komunitas jetset berdansa, para musisi jazz berkemas pulang karena sudah selesai tugasnya. Tapi, tidak ada Indra Lesmana dan musisi seangkatanya dalam panggung jazz malam itu. Tidak diundang. Padahal banyak yang menunggu. Maka muncul pertanyaan, adakah jarak antara yang senior dan junior dalam kehidupan musik jazz di Indonesia? Hanya mereka yang bisa jawab.

Sementara di saat yang sama, sore hari, sekelompok kecil anak belia duduk di lantai sudut garasi mobil, di gang sempit kawasan Kemayoran Jakarta Pusat, mendengarkan Beben Supendi Mulyana berceritera tentang musik jazz. Selain ceritera jazz, mereka belajar bermain musik jazz, kemudian menonton film tentang legenda jazz. Kegiatan ini dikenal dengan nama Komunitas Jazz Kemayoran (KJK) dan sampai sekarang kegiatan di gang sempit itu masih berjalan secara rutin. Jumlah yang hadir juga semakin banyak sehingga Beben harus menggelar di beberapa tempat untuk memudahkan para pemula ikutan berjazz.

Beben Supendi usianya sekarang 48 tahun, awalnya adalah atlet nasional bulutangkis lulusan SMA Ragunan. Tidak banyak yang tahu ceriteranya kemudian ia banting setir menekuni musik jazz bahkan, bisa dikatakan, total jazz. Hidup Beben seakan hanya untuk jazz. Bukan hanya bermain jazz untuk diri sendiri juga untuk orang lain dengan mengajar bagaimana bermain musik jazz dan sejarah jazz. Dalam setiap penampilan di panggung atau dimanapun hadir, Beben berusaha menyelipkan ceritera sejarah lagu yang dimainkan, aliran musiknya, pencipta sampai chord yang dipakai.

Cara ini langka dilakukan musisi jazz lainnya dan semakin membuat anak muda yang menonton menjadi tertarik pada jazz. Pada kemudian hari anggota KJK semakin banyak dan meluas ke luar Jakarta, terdiri dari pelajar, dokter sampai seorang Umar, anggota Brimob yang rajin datang menenteng gitar memainkan jazz standard di KJK menjuluki Beben dengan Beben Jazz.

Apa yang bisa dilihat dari upaya total seorang Beben Jazz adalah tanpa dirasakan, diakui atau tidak, semakin banyak komunitas jazz tumbuh di kota-kota kecil luar Jakarta dan Bandung. Beben tidak segan diundang, kadang tanpa bayar, ke kota-kota kecil untuk mengajar dan bicara jazz di depan komunitas kampung. Beben seakan tidak terganggu hingar bingar acara jazz dikalangan para senior dan memilih, apa yang disebut dengan ,“main pinggir”. Kenyataanya, saat ini, perkembangan musik jazz tidak melulu berada di pusat kota atau Jakarta tetapi justru marak dan hidup lewat desa-desa kemudian merangsek Jakarta.

Kehidupan komunitas jazz seperti yang dilakukan Beben bisa dilihat seperti di Semarang ada komunitas jazz Sor Ringin (ngisor ringin atau di bawah pohon beringin), Jazz Ben Senen Yogya (Saben Senen atau setiap Senin), Jazz Ringin Condong , Jombang, Korek Jazz (komunitas arek jazz) Surabaya dan masih banyak lainnya. Setidaknya kota kecil seperti Blitar,
Sidoarjo, Banyuwangi, Purwokerto, Pekalongan, Tulungagung, Solo dan masih banyak lainnya sampai ke seberang pulau Jawa di Makasar, Manado, Medan, Bangka memiliki komunitas jazz yang aktif dan ‘terkoneksi” dengan sesama komunitas lainnya.

 Bukan hanya komunitas yang hidup tetap festival tahunan di kota jauh dari Jakarta juga terus berjalan dan rutin, seperti
Jazz Gunung, Ngayog Jazz, Banyuwangi Jazz dan lainnya. Peristiwa tersebut menunjukan bahwa musik jazz di Indonesia semakin berkembang. Beben merupakan salah satu tokoh yang layak mendapat bintang, terlepas dia tidak menyadari hal itu karena berangkat dari kecintaan dan bukan proses instan.

Sungguh menarik mencermati kehidupan komunitas jazz di daerah. Mereka menjungkirbalikan dunia jazz modern yang selama ini terkesan elite menjadi biasa saja dan tetap akrab. Ini bisa dilihat dari nama-nama kegiatan mereka yang tidak umum, nyleneh, seperti Jazz Ngisor Ringin, Saben Senen, Ringin Condong dan sebagainya. Jika di kota besar kehidupan
musik jazz dikaitkan dengan menonton sambil minum bir di pub atau hotel, sementara jazz pinggir ini meniadakan bir dan mengganti minuman dengan teh tubruk, kopi, jahe hangat sampai beras kencur. Etawa Jazz di Yogyakarta, misalnya, lama main di Kedai Susu Kambing , kawasan ring road, sebelum kemudian pinah ke Warung Demit (warung hantu). Adakah
minuman para jazzer pinggir itu bisa dipesan di café jazz Jakarta?

Bicara kemampuan permainan musik jazz komunitas luar Jakarta termasuk juga KJK tentulah relatif. Harus bijak memahami mereka, sebab juga tidak mudah mendapatkan pendidikan musik jazz di kota-kota kecil secara langsung. Kebaradaan internet sangat mebantu tetapi pelajaran efetif adalah jika bisa bertemu guru yang paham atau sang bintang dari kota besar apalagi luar negeri. Namun juga tidak bisa dipungkiri pianis seperti Yohanes Gondo dari Yogya yang berguru kepada Bubi Chen di
Surabaya atau saxophonist Aswin Dzulfikar dari Jombang dan beberapa lainnya memiliki permainan cukup bagus dalam jazz. Sayang, mereka belum dilirik musisi senior Jakarta untuk diajak main sehingga masih sekedar
main untuk komunitasnya atau acara khsusus.

Jika musik jazz ingin semakin berkembang dan lebih baik, memang, kepedulian musisi senior tidak bisa dipungkiri, mereka perlu menyapa musisi muda. Kelemahan yang juga terjadi adalah para pemusik jazz luar Jakarta sering terkesan minder  berkenalan dan bermain dengan nama besar atau jazz senior. Ini sebuah masalah yang harus dihilangkan. Beben Jazz
sering sebagai jembatan tetapi tentu tidak bisa selalu dan semua. Padahal musisi besar seperti Idang Rasidi, Benny Likumahua, Benny Musatafa, Jefry Tahalele dan lainnya terbuka kepada anak muda. Hal itu bisa di lihat di Java Jazz Festival mereka tampil di panggung dengan musisi muda.

Pihak Java Jazz Festival dan festival lainnya, semestinya, juga punya perhatian kepada kehidupan komunitas-komunitas jazz di kota kota kecil di Indonesia. Adalah betul bahwa festival mereka besar, faktanya banyak dihadiri penonton tetapi keberadaan komunitas kecil tetap ikut membantu memperkenalkan musik jazz kepada masyarakat, kemudian mereka datang
menonton.

Selain menggelar festival ada baiknya juga menyelenggarakan diskusi-diskusi di kalangan komunitas jazz menghadirkan
musisi senior atau mereka yang bisa menjelaskan tentang jazz. Memberikan panggung khusus untuk komunitas jazz Indonesia di festival agar besemangat dan jazz semakin hidup merupakan langkah terpuji. Meskipun hanya panggung kecil di sudut arena. ***

Eddy Koko – (Penikmat Musik Jazz)

Dikutip dari Koran Sindo edisi 9 Maret 2015



Dibaca: 01732 kali
   »
   »