Video »

Video Lainnya:

Update: 07 Maret 2015
Menunggu Ramsey Lewis memainkan “Tersiksa Lagi”

AKHIR pekan ini kembali Java Jazz Festival digelar. Maka banyak orang kota, khususnya Jakarta, tempat festival diselenggarakan, berbondong keluar rumah menonton “festival jazz”. Mereka bergaya ala jazz, berusaha mendegarkan jazz, memakai baju jazz dan pendeknya, demam jazz. Perkara ke festival sekedar jalan-jalan melihat keramaian, kongkow sesama teman yang juga bingung tentang jazz tidaklah soal. Tentu yang gila jazz juga tidak mau ketinggalan hadir menyaksikan satu dua pertunjukan musisi jazz luar negeri. Semua berbaur menjadikan arena Pekan Raya Jakarta ramai selama tiga hari.

            Festival Java Jazz memang menghibur. Meskipun namanya festival jazz tetapi musik dan musisi yang dihadirkan tidak melulu jazz. Bahwa corak musik  yang dimainkan  seorang atau grup musik bisa menjadi perdebatan panjang, apakah itu jazz atau bukan? Nikmati saja. Sebab, kata Louis Armstrong, jazz bisa dikenali tetapi belum tentu bisa dijelaskan dengan kata-kata.  Maka ketika menonton atau mendengar musisi yang tampil di Java Jazz Festival, seperti Idang Rasidi di satu panggung dan Ruth Sahanaya serta Ananda Sukarlan di panggung lain adalah nikmati saja. Memang, orang akan dengan tegas mengatakan Idang main jazz, Ruth dengan lagu pop dan Ananda Sukarlan  memainkan musik klasik tetapi siapa tau mereka akan membuat kejutan dalam jazz. 

            Sejumlah penggemar musik jazz pasti akan mengatakan Java Jazz Festival tidak murni festival jazz dan merasa kecele. Namanya festival musik jazz tetapi musik  gado gado yang dihadirkan. Ada benarnya pendapat tersebut tetapi sebaiknya abaikan saja sebab festival ini kegiatan bisnis yang harus untung dan berkelanjutan. Ibarat warung nasi uduk, bolehlah juga menjual nasi pecel dan nasi goring tetap pakai sambal. Itu otoritas yang punya warung dan pembeli boleh datang jika suka tidak pun tak apa.  Yang penting warung ramai, sponsor banyak, uang masuk besok hari masih bisa jualan lagi. Hanya, memang, java jazz festival kurang komplit, semestinya sekalian ada keroncong dan dangdut. Kalau harus ada persyaratan kepada dangdut  dan keroncong memainkan lagu Fly Me to The Moon, Misty, Caravan dan dijamin bisa.

            Kepada mereka yang ingin menikmati musik jazz tetap  ada sejumlah nama yang layak ditonton permainannya. Dari yang main  trio, kwartet  sampai big band dari luar dan dalam negeri. Jadi tidak perlu khawatir rugi beli karcis karena hanya akan disuguhi musik pop atau sekedar musik eksperimen. Ambil hikmahnya saja, yang suka musik jazz tetapi pasangan atau teman nonton “sakit kepala” dengar jazz bisa sejenak berpisah diarahkan  nonton Ruth Sahanaya. Adil, bukan?!

Dari jadwal yang beredar, hari kedua Java Jazz Festival atau Sabtu malam sampai Minggu malam  pertunjukan akan banyak tampil musisi jazz layak simak. Ada Ramsey Lewis, Anthony Stanco, Blue Note Tokyo – All Stars Jazz Orchestra, Benyamin Herman Quartet,  Ron King Big Band dan lainnya. Yang punya uang lebih bisa beli tiket lagi untuk nonton pertunjukan khusus dari Bobby McFerrin dan Chris Botti dengan music lembut pengantar tidur.  Dari Indonesia  Karim Suweileh and the Jazzy Quintet Tribute to The Beatles akan menarik dinikmati jika memainkan lagu-lagu The Beatles dalam irama jazz, seperti pernah  dilakukan Sarah Vaughn dalam album khusus menyanyikan lagu-lagu The Beatles tahun 1981.

Ron King Big Band merupakan kelompok musik dengan segudang pengalaman  yang menjadi langganan hadir di Java Jazz Festival dikomandani Ron King seorang peniup trumpet. Dalam JJF Ron tidak hanya main dalam big band tetapi juga quintet pada waktu berbeda. Jazz tidak membosankan sebab tidak ada satu lagu bisa dimainkan dalam bentuk yang sama lewat jazz. Meskipun sudah berkali tampil tetapi menonton Ron King Big Band tetap menarik dan perlu untuk mereka yang  ingin mengenal music jazz. Dalam sejarah jazz, big band ada dalam era swing sebelum kemudian era bebob yang dibidani Charlie Parker dan Dizzy Gillespie hadir.  Ciri big band ada pada musik tiup (brass) dimana memiliki masing-masing empat peniup trumpet, saxophone dan trombone  yang sudah menjadi ketentuan  standar  kemudian  piano, bas, gitar juga dram.

 Swing Band atau grup musik swing pada masanya merupakan musik hiburan untuk mengiringi dansa-dansi kemudian dinobatkan menjadi musik pop Amerika pada awal 1930-an. Musik ini disukai banyak orang dari berbagai usia dan kelas karena sifatnya yang lentur, bisa ngepop, ngejazz , waltz dan sebagainya. Tidak mengherankan jika Ron King Big Band pernah tampil di JJF bersama kelompok musik pop Band Gigi atau Sheila on 7 dari Indonesia. Yang menarik dari penampilan musisi dalam Big Band, biasanya, mereka tampil rapi dengan jas dan sepatu kulit mengkilat atau seragam  jika tidak mengenakan jas.

Ramsey Lewis dan Tersiksa Lagi

Perlu juga ditonton adalah peniup trumpet Anthony Stanco dari AS yang akan tampil dengan grupnya, biasanya bermain dalam quintet atau ansambel. Anak muda yang sangat berbakat dalam memainkan jazz ini senang berbagi ilmu musik dan terkesan cukup komunikatif dalam musik dan diskusi. Bebob dalam tiupannya begitu terasa greget seperti umumnya musisi kulit hitam memainkan jazz. Jika Stanco banyak bercitera lagu Salt Peanuts  karya Dizzy Gillespie dalam setiap diskusinya serta memainkannya, boleh jadi ia begitu terpengaruh oleh sang legenda Gillespie . Bedanya dalam berbagai kesempatan terekam Dizzy memainkan Salt Peanuts dengan urakan, konyol dan membanyol sementara Stanco ramah dan sopan. Bagaimana musik bebob dihadirkan dan dimainkan dengan semestinya, penonton JJF perlu menyempatkan menonton Anthony Stanco.   

Menjadi pertanyaan, sebetulnya, mengapa pemain jazz senior Ramsey Lewis (kelahiran Chicago 27 Mei 1935) peraih Gramy Award 1965 tidak ditempatkan di panggung utama? Ramsey punya jejak panjang dalam dunia jazz dibanding Chris Botti, misalnya. Ia pernah rekaman bersama  Max Roach (dedengkot drum) diawal karirnya sempat bergabung bersama Eldee Young (bas) dan  hidup dalam tiga zaman jazz. Pasti penyelenggara JJF punya pemikiran lain soal penempatan musisi tetapi kesan paling kuat adalah bahwa festival tidak mengacu pada kata jazz bisa menjadi benar. Festival jazz yang kemudian dikesankan  bermetamorfosis menjadi ajang pemusik terkenal bukan  pemusik  memiliki skilfull. Ramsey Lewis sangat layak ditonton dan perlu oleh para penggemar musik jazz di Indonesia.

Ada yang menarik dari Ramsey Lewis terkait dengan dunia musik pop Indonesia. Yaitu tidak banyak yang mengetahui bahwa lagu Tersiksa Lagi yang didendangkan penyanyi Utha Likumahua dan menjadi begitu terkenal bahkan sampai hari ini adalah karya Ramsey Lewis dengan judul asli You Are The Reason. Utha Likumahua merekam lagu Tersiksa Lagi pada 1982 sementara Ramsey dua tahun sebelumnya bersama quintet-nya. Pasti akan ada tepuk tangan meriah jika Ramsey memainkan Tersiksa Lagi di Java Jazz Festival 2015.***

Eddy Koko – Penikmat Musik Jazz

Dikutip dari: Koran Sindo edisi 7 Maret 2015
 


Dibaca: 01390 kali
   »
   »