Video »

Video Lainnya:

Update: 01 07 2014
Dullah Suweleh Identik dengan Perkusi


Harian Suara Pembaruan, 17 Maret 2000


Dullah Suweleh Identik dengan Perkusi

Suatu hari, sekitar tahun 1983, di ruang studio rekaman di kawasan
Tebet, Jakarta, Indra Lesmana yang ketika itu masih ‘bocah’ dan sedang
menyimak hasil rekamannya nyeletuk, “Kurang Dullah, nih.”

Yang dimaksud Indra Lesmana pastilah perlu sentuhan perkusi pada musik
yang sedang diolahnya. Dan, yang dimaksud dengan Dullah tidak lain
adalah Dullah Suweleh, salah seorang pemain perkusi senior Indonesia .
Lantas, marahkah yang empunya nama karena disamakan dengan alat musik
tabuh alias perkusi? “Justru itu yang saya cari. Artinya perjalanan
musik saya berhasil, nama Dullah identik dengan musik perkusi,” kata
Dullah bangga.

Dullah Suweleh memang seorang pemain perkusi yang handal dan sudah cukup
lama malang melintang di dunia musik Indonesia. Wajahnya atau sosoknya
yang keturunan Arab itu sangat populer, baik di panggung maupun layar
televisi. Dullah tidak hanya mendukung satu grup musik, tetapi sering
terlihat tampil bersama grup-grup lainnya. Tujuannya, tidak lain, untuk
memberikan sentuhan atau warna lain pada musik yang dimainkan grup
tersebut. Namun harus diakui, Dulah lebih banyak main dalam musik jazz.

Berdagang
Sampai sekarang, setidaknya sudah lebih dari empat puluh tahun Dullah
Suweleh bermain musik yang mengkhususkan pada alat perkusi, dimulai dari
tahun 1960 di Surabaya. Dalam keluarga Suweleh bukan hanya Dullah yang
bermain musik. Kakaknya, Awad Suweleh dan adiknya, Karim Suweleh juga
memainkan perkusi. Bahkan, sejak sepuluh tahun lalu, putranya, Helmy
Suweleh juga sudah mengikuti jejak Dullah menabuh perkusi.

“Ayah saya memang saudagar, tetapi anaknya tidak ada yang dagang.
Orangtua juga tidak mengharuskan anak-anaknya ikut jejak mereka. Ketika
Awad memulai main perkusi dan saya tertular, ikut juga main, disusul
Karim, tidak ada larangan dari orangtua. Ibu saya sangat mendukung
anaknya main musik. Tapi sekarang Awad tidak main lagi, cuma mengajar
perkusi di Surabaya,” cerita Dullah yang kelahiran Surabaya itu.

Dullah yang kini sudah berusia 55 tahun mengaku, tidak ingat kapan
persisnya ia mulai memainkan perkusi. Yang pasti, baik dirinya maupun
Karim, dipe-ngaruhi oleh kakaknya, Awad, yang lebih dahulu bermain
musik. Awad sempat main bersama tokoh-tokoh jazz Indonesia, baik di
Sura-baya maupun Jakarta di Hotel Indonesia. Kebetulan sebagian besar
para musisi tersebut berasal dari Surabaya, seperti Maryono, Bubi Chen,
Jack Lesmana dan sebagainya. Tetapi tidak lama kemudian Awad kembali ke
Surabaya.

Jika dikaitkan dengan perkembangan dunia musik di Indonesia, tampaknya,
era ketika Dullah mulai main perkusi tidak lepas dari adanya pengaruh
musik latin yang masuk ke Indonesia. Contohnya, Gumarang dan Tabareno
yang pada tahun enam puluhan sedang terkenal, mereka mengetengahkan
lagu-lagu daerah tetapi iringan musiknya diwarnai sentuhan musik Amerika
Latin. Tidak heran kalau kemudian Dullah ikut memainkan musik Latin
lewat alat perkusi.

Dari Musik
Tahun 1974 Dullah memberanikan diri masuk Jakarta, setelah ia memutuskan
akan tetap main musik sebagai pilihan hidupnya. Ia begitu yakin bisa
hidup dari bermusik sampai nekad meninggalkan bangku kuliahnya di
tingkat III Fakultas Ekonomi Airlangga tahun 1964. Di Jakarta, Dullah
main bersama musisi jazz yang sebelumnya main bersama Awad. Dullah
memang menggantikan posisi Awad yang tidak betah tinggal di Jakarta.

Menyadari pilihan hidupnya, sejak itu Dullah pun memperkaya diri dengan
berbagai pengetahuan tentang musik, terutama perkusi. Meskipun
kegiatannya banyak terlibat dalam musik jazz, ia terus menimba ilmu dan
mengasah keterampilannya tidak hanya dalam musik jazz. Itu sebabnya,
wajah Dullah sering terlihat di televisi atau berbagai pergelaran musik.

“Saya tidak hanya ikut main musik jazz tetapi juga ikut grup yang main
musik pop, Latin dan sebagainya. Dan, saya juga tidak hanya main perkusi
bongo atau conga, sering juga main dram seperti Karim,” kata Dullah.

Pemikiran bahwa dirinya harus bisa ikut memainkan berbagai jenis musik
diawali ketika musik jazz mulai meredup di Indonesia. Semula pada tahun
enam puluhan musik jazz sedang bersemi di tempat-tempat hiburan,
terutama di hotel berbintang. Tetapi setelah era berubah, jazz mulia
meredup, kalah pamor karena orang sedang dilanda demam rock ‘n roll. Mau
tidak mau Dullah harus banting setir juga, ikut memainkan musik lain
agar bisa terus bertahan hidup di Jakarta.

“Saya menyadari profesi yang saya pilih. Tidak cukup dengan modal tekad
agar terus bisa hidup dari musik, tetapi juga perlu wawasan yang
objektif. Harus terus mempelajari apa yang ber- kaitan dengan musik yang
kita pi-lih. Alhamdulillah, saya bisa menghidupi keluarga dan main
sampai ke North Sea Jazz Festival di Belan-da, sana. Bahkan tahun 1996,
saya main bersama anak saya, Helmy, dalam satu panggung, satu grup
mewakili Indonesia di North Sea Jazz Festival,” tutur Dulah senang.

Dullah sangat menguasai musik latin di mana perkusi atau conga yang
sering ia mainkan merupakan jantung dari musik tersebut. Dullah
mempelajari sejarah dan perkembangan musik-musik Latin, dan berusaha
mendapatkan literatur serta album-albumnya yang tidak masuk ke Indonesia
dengan berbagai macam cara.

Musik Latin mengalami booming bersamaan dengan hadirnya Ricky Martin.
Hal itu menjadi berkah bagi Dullah, termasuk putranya. Ia banyak
mendapat tawaran main sebagai bintang tamu di sejumlah pergelaran. Helmy
pun sempat ngendon di Hong Kong dan Singapura masing-masing selama dua
bulan hanya untuk main perkusi belum lama ini.

Dunia musik tak mengenal istilah pensiun. Dullah pun demikian. Justru
makin tua, makin banyak tawaran yang didapatnya. Ia tidak
sungkan-sungkan terlihat bersama musisi yang usianya jauh beda
dengannya, termasuk Helmy. Ia juga tidak memilih grup atau musisi yang
mengajaknya main sudah terkenal atau belum.

Dengan sedikit waktu tersisa, Dullah masih menyempatkan memberi kursus
kepada empat orang remaja yang berniat memainkan perkusi. Dullah
mengakui, tidak banyak remaja suka memainkan atau menekuni perkusi
dibandingkan piano, gitar dan lainnya.

Dullah sulit menjawab kenapa begitu. “Soalnya kalau dibilang khawatir,
lewat perkusi sulit cari makan, buktinya saya hidup. Kekhawatiran itu
sebetulnya tidak perlu. Perkusi bisa masuk ke semua jenis irama, kok.
Yang penting profesional, mencintai pekerjaannya dan terus meningkatkan
kemampuannya,” Dullah berpesan.

Keinginan Dullah, suatu hari ia bisa main lagi bersama Awad, Karim dan
anaknya, Helmy dalam satu panggung pergelaran musik. Ia tahu Awad sudah
enggan untuk bermain. “Tapi Awad masih meng-ajar, berarti masih main
perkusi,” katanya. 
 


Dibaca: 01161 kali
   »
   »