Video »

Video Lainnya:

Update: 01 07 2014
Indra Lesmana Kembali ke Jazz

Suara Pembaruan, Senin 7 April 2000/

Indra Lesmana Kembali ke Jazz


ditulis oleh Eddy Koko


Indra Lesmana main jazz, itu bukan berita. Tetapi kalau Indra Lesmana

kembali menekuni jazz, baru berita. Tapi apa betul begitu?

 

“Betul. Itu sudah merupakan komitmen batin. Sekarang saya menyadari sebetulnya saya

memang musisi jazz. Apa yang saya lakukan selama ini, menekuni musik

pop, betul-betul melenceng,” ungkap Indra Lesmana di rumahnya, kawasan

Pamulang, Tangerang.

 

Ketika berbicara tentang rencananya untuk kembali menekuni jazz,

terkesan ada “penyesalan” dalam diri Indra terhadap apa yang telah

dilakukannya selama ini. Memang terasa aneh juga ia melenceng dari jazz

yang telah dipelajarinya sampai di mancanegara.

 

“Saya menyadari sekarang. Tetapi saya memetik pelajaran dari semua itu

dan saya anggap sebagai perjalanan spiritual. Sebetulnya, saya mulai

menyadari apa yang saya lakukan itu melenceng pada tahun 1987.

Puncaknya, malam Jakjazz 1998, ketika main bersama Grup Trakebah. Saya

merasakan, betapa amburadulnya karier musik saya. Tidak jelas arahnya.

Setelah itu saya banyak merenung, berpikir dan mawas diri. Syukurlah hal

itu kini sudah berlalu,” ceritera Indra Lesmana.

 

Terseretnya Indra Lesmana keluar dari “habitatnya” diakui, terjadi

begitu ia kembali ke Indonesia dari belajar musik jazz di Australia

selama sekitar 4 tahun. Awalnya, seperti juga musisi lainnya, Indra

melakukan pencarian (eksploitasi) terhadap musik-musik lama baik itu

jazz maupun rock’n roll dan lainnya. Sebetulnya, hal itu wajar-wajar

saja dilakukan setiap musisi. Tetapi perkembangannya, pada era tahun

delapan puluhan, praktek ini membuatnya terjerumus ke dalam industri,

bukan lagi sekedar bermusik. “Banyak musisi yang menjadi korban,

termasuk saya yang langsung memberi perhatian total terhadap musik pop,”

kata Indra yang memulai debutnya di musik pop dengan album Nostalgia

tahun 1982.

 

Terburu-buru

Indra kini menyadari, keputusannya untuk menggeluti musik pop ketika itu

diambil secara terburu-buru. Ia selalu mempunyai komitmen untuk bekerja

secara total. Ketika ada tawaran untuk main di musik pop, ia tidak bisa

menolak. Susah baginya untuk mengatakan tidak. Dan, begitu ia

menyanggupi permintaan, ia langsung bekerja total.

 

“Semula saya pikir, terjun ke pop hanya akan main musik saja.

Kenyataannya, tampil di depan publik tidak bisa dihindari, dan orang

melihat apa yang sedang saya lakukan. Maka lahirlah seorang seniman

dengan dua wajah. Saya tahu itu, bukan hanya orang lain yang mengecam,

saya pribadi juga mengecam diri sendiri. Semua itu terjadi karena

seseorang tidak mempunyai bekal spiritual dalam dunia materi. Saya

melihat dari sisi gampangnya tanpa memikirkan dampaknya dan saya lakukan

semua itu dengan lugu serta naif,” ungkap Indra yang kini terkesan lebih

tenang dan arif. “Ya, saya sudah menemukan ketenangan saat ini,” tambahnya.

 

Ketenangan yang diperoleh Indra tampaknya bukan hanya dalam soal berumah

tangga tetapi juga dalam bermusik. Dalam rumah tangga ia mendapat

pendamping kembali, setelah rumah tangganya berantakan beberapa tahun

lalu. Sedangkan dalam bermusik ia menemukan teman-teman yang

sepemikiran, sejalan dan setujuan. Bersama Riza Arsyad, Arief, Aksan,

Iwang dan Mates, Indra mendirikan perusahaan rekaman Swara Bumi. Lewat

Swara Bumi ini, nantinya, mereka akan mencoba mengolah dan menyuguhkan

musik-musik yang dimainkan dengan tingkat kesadaran yang tinggi.

 

Indra juga sedang tak mempunyai kegiatan dengan kelompok PIG (Pra,

Indra, Gilang) yang memainkan musik avant garde atau free jazz. Tidak

bisa dipungkiri, bersama PIG Indra seperti mencari sesuatu, meluapkan

emosinya yang tidak tertumpahkan di luar koridor musik.

 

Suatu hari dalam acara Jazz Goes To Campus di Universitas Indonesia

(1995), Bubi Chen sempat ‘meledek’ Indra mengenai musik yang

dimainkannya. Indra hanya tersenyum. “Saya akui. Saat itu Pra juga

sedang menghadapi problem. Gilang yang tidak tahu apa-apa jadi ikutan.

Soalnya, saya dan Pra setuju, untuk main musik seperti ini Gilang paling

cocok. Ketika ditawari, Gilang mau, ya, jalan. Tetapi sampai sekarang

kami belum menemukan apa yang kami inginkan. Ya, kami berhenti dulu,”

tutur Indra mengenai musik kelompoknya PIG.

 

Dua Album Baru

Swara Bumi yang berdiri sejak setahun lalu dan bermarkas di kawasan

Pondok Pinang, Jakarta Selatan, telah merilis dua album, yaitu album

kelompok Humania berjudul Interaksi dan album Ermy Kulit berjudul Saat

Yang Terindah. Dua album ini diakui Indra sebagai sebuah pengalaman

pertama bersama rekan-rekannya menggarap musik dengan tingkat kesadaran

yang berbeda.

 

Pada April ini akan diproduksi pula album live duet Indra Lesmana dengan

Bubi Chen dengan mengambil tempat pergelaran di Gedung Kesenian Jakarta.

Sementara untuk menandai kembalinya ke jazz, Indra membuat album solo

berjudul Reborn.

 

Indra berharap perkembangan musik jazz di Indonesia yang dinilainya

masih mandek, bisa dipacu. Ia tak menyetujui pendapat jazz tak

‘komersial’. Pendapat seperti itu bisa muncul karena orang-orang yang

terlibat di dalamnya belum memiliki satu rasa yang sama. Kalau sudah ada

kesamaan niscaya semuanya akan berjalan dengan lancar.

 

“Swara Bumi akan berusaha memecahkan tembok-tembok tersebut dengan cara

bekerja tidak ngoyo dan percaya dengan seleksi alam. Saya mempunyai

harapan, perusahaan ini bisa menjadi seperti perusahaan rekaman Verve

atau Blue Note, natinya,” Indra berharap.

 

Meskipun akan serius pada musik jazz, Indra tetap tidak melupakan musik

pop yang pernah memberikan banyak pengalaman dari soal rekaman sampai

teknologi rekamannya. Ia tidak membantah mendapatkan materi yang cukup

dari musik pop, termasuk mampu mempunyai studio rekaman sendiri.

 

“Saya tidak pungkiri hal itu. Musik pop sudah memberikan banyak

pelajaran hidup dan penghidupan buat saya. Kini saatnya saya kembali ke

rumah,” kata Indra Lesmana yang telah memutuskan untuk kembali menekuni

jazz. *-



Dibaca: 00950 kali
   »
   »