Video »

Video Lainnya:

Update: 30 06 2014
Ebbiet & Misteri lagunya

Suara Pembaruan  4 Januari 2005

Misteri Lagu Ebiet

ditulis oleh EDDY KOKO


Barangkali di sana ada jawabnya mengapa di tanahku terjadi bencana...

SIAPA tak hafal petikan lirik lagu di atas? Bencana alam yang terjadi di Tanah Air kita sekarang ini memang menyisakan pertanyaan seperti yang dilantunkan Ebiet G AD (populer disebut sebagai Ebiet G Ade) beberapa puluh tahun lalu itu. Lagu-lagu Ebiet memang terasa menggugah, menyadarkan orang, mengajak orang merenung tentang arti dan jalan kehidupan.

Bahkan, seakan, Ebiet, lewat lagunya, mampu membaca zaman. Lagu-lagunya sungguh suatu misteri. Simak saja secara komplet lagu Berita Kepada Kawan, Untuk Kita Renungkan dan masih banyak lainnya. Dua lagu tersebut, saat ini, banyak diputar stasiun radio maupun televisi, sebagai musik penyerta acara program berita Tragedi Aceh.

Seperti kita ketahui tanggal 26 Desember 2004 bencana gempa disusul gelombang air laut tsunami melanda Sumatera Utara dan Aceh. Puluhan ribu jiwa tewas, luka-luka dan merana serta perkampungan penduduk rata dengan tanah. Tak pelak, banyak orang menilai, lagu-lagu Ebiet pas dengan tragedi ini. Ratapan dan rintihan derita itu seperti terwakili melalui lagu-lagu Ebiet.

"Ya, tetapi saya tidak pernah membayangkan akan ada peristiwa dahsyat seperti yang terjadi di Aceh saat ini. Saya membuat lagu Untuk Kita Renungkan memang terinspirasi dengan peristiwa meletusnya Gunung Galunggung. Peristiwa itu, buat sa-ya, ketika itu, sudah cukup dahsyat dan saya tidak pernah membayangkan ada yang lebih dahsyat lagi, seperti di Aceh ini. Kalau kemudin lagu saya itu dinilai orang pas dengan peristiwa di Aceh, bukan berarti saya bisa membaca zaman. Kalau Tuhan sudah berkehendak, tidak ada yang bisa menghalangi," ungkap Ebiet dalam acara Radio Marathon For Aceh yang diselenggarakan Radio Trijaya Network selama 24 jam pada malam tahun baru kemarin.

Menurutnya, ia sangat terkejut dan terenyuh, juga kelu untuk bicara ketika melihat berita di televisi ada bayi-bayi meninggal dijajarkan. "Ketika itu saya seperti melihat roh bayi-bayi tersebut terbang ke angkasa dan langsung sampai di pangkuan Illahi. Deretan bayi atau anak-anak tanpa dosa itu seperti tidur dengan tenang. Tuhan memanggil mereka," kata Ebiet, lirih.

Masih menurutnya, kalau mungkin kita mampu atau peka, maka bencana seperti ini bisa dideteksi jauh hari. Tuhan selalu memberi isyarat atau tanda-tanda. Tetapi manusia memang mahluk yang banyak khilaf. Manusia baru sadar setelah semuanya terjadi.

Tetapi, meskipun dia pernah menuangkan pikirannya lewat syair lagunya yaitu, mungkin Tuhan sudah bosan melihat tingkah kita, dia berharap Tuhan tidak menghukum umatnya. "Semoga ini bukan hukuman dari Tuhan, tetapi hanya sebuah isyarat agar kita, manusia, mau introspeksi untuk berbuat lebih baik lagi. Tragedi Aceh merupakan ujian sangat besar untuk kita semua. Tetapi mudah-mudahan ada hikmah yang bisa kita petik dari peristiwa ini semua," pesan Ebiet.

Ebiet punya pandangan yang cukup menarik terhadap tragedi tsunami di Aceh. Menurutnya, laut sudah marah karena selama ini digunakan untuk kebatilan. Laut sudah bosan dipakai untuk sesuatu kebohongan. Laut yang tenang itu tiba-tiba berdiri dan menepiskan tangannya atas perintah Tuhan.




Dibaca: 01148 kali
   »
   »