Video »

Video Lainnya:

Update: 30 / 06 / 2014
Singapur Jazz Festival 2001

SUARA PEMBARUAN DAILY 27 Mei 2001


Singapura Mulai Jualan Jazz

ditulis oleh Eddy Koko


Pekan lalu pada 18-20 Mei 2001 Singapura menggelar festival musik jazz berkelas internasional. Sejumlah 'biang' jazz hadir menyemarakan festival ini. Sebut saja, si dewa gitar Lee Ritenour, duo Tuck & Patti, Ernie Watts, Terumasa Hino, Jay Anderson, John Lee, Jon Faddis, Slide Hampton, Frank Tiberi dan masih banyak lainnya. Juga ada kelompok Take 6 yang cukup digemari anak muda. Bahkan, nama legendaris seperti Woody Herman (lewat The Woody Herman Orchestra) dan Dizzy Gillespie (lewat The Dizzy Gillespie Alumni) ikut dibawa-bawa. Serta, tidak tanggung-tanggung, saksofonis legendaris James Moody dan pemain bas Eldee Young juga didatangkan. Maka, jadilah Singapore International Jazz Festival (SIJF) menjadi sebuah ajang pertunjukan jazz yang komplit.


Pada kesempatan ini Indonesia mengirim Ireng Maulana, Idang Rasyidi, Cendy Luntungan, Bintang Indrianto, Tommy Maulana, Andrea Maulana dan peserta termuda Saku Rasyidi (12). Mereka tergabung dalam kelompok Mutu Band yang berarti muda dan tua.

Penggemar musik jazz betul-betul disuguhi sajian menarik lewat festival jazz di Singapura ini. Mereka bisa menikmati sajian jazz dari bentuk mainstream, bebop sampai fusion, latin dan sebagainya. Orang juga bisa melihat dan mendengarkan permainan musik dari para musisi yang terinspirasi idola masing-masing. Jeremy Monteiro, selaku orang yang dipercayakan menangani event ini mampu membuat festival yang mengambil tempat di kompleks Suntec City Singapore International Convention & Exhibition Centre berlangsung sukses dan meriah.


Tanpa acara seremonial, hari pertama SIJF langsung mempertunjukkan 15 grup atau sekitar 150 musisi yang main di empat panggung. Pertunjukan di tiga panggung, yaitu Sky Stage dan Gazebo Stage (open air) dan Atrium Stage (di dalam Suntec City Mall), kemudian menjadi tempat sebagian besar peserta festival tampil, tidak dipungut bayaran alias gratis.

Penyelenggara hanya mengenakan tarif S$ 60, S$ 90 dan S$ 120 bagi mereka yang ingin menonton di panggung utama (Suntec Convention Hall), tempat nama-nama besar bermain seperti Tuck & Patti, The Woody Herman Orchestra, Lee Ritenour, Take 6, The Dizzy Gillespie Alumni bersama James Moody, Terumasa Hino serta The Thomson Big Band sebagai peserta tuan rumah.

Menikmati

Kecintaan dan apresiasi terhadap jazz betul terlihat pada SIJF ini. Buktinya, 2.400 bangku yang disediakan terisi semua. Penonton begitu menikmati suguhan The Thomson Big Band. Kelompok ini bisa dibilang amatir. Maklum, sehari-harinya personel The Thomson Big Band bekerja di luar musik. Mereka tetapi mampu menunjukkan permainan jazz yang bagus. Kehebatan permainan mereka bisa dibuktikan juga dengan kemampuan bermain bersama pemain bas senior, Eldee Young, kelahiran Chicago 7 Januari 1936. Young merupakan pemain bas langka, karena ia juga bisa bernyanyi dan dalam kariernya pernah membuat rekaman bersama James Moody untuk album Hey! It's Moody tahun 1959.


Kondisi The Thomson Big Band jauh berbeda dengan The Woody Herman Orchestra (tampil pada sesion kedua). Anggotanya betul-betul profesional. Selain nama Woody Herman (1913-1987) sendiri sudah cukup besar dalam dunia jazz, personil The Woody Herman Orchestra pun tidak kalah dasyat, hampir semuanya lulusan Berkeley dan sebagian adalah guru musik. Bisa dibayangkan sajian dari orkestra yang malam itu menampilkan pemain saksofon Frank Tiberi sebagai leader dan vokalis Vanessa Rubin yang sempat membawakan lagu dari Thelonious Monk, Round Midnight. Tiberi sendiri (kelahiran New Jersey 4 Desember 1928) dalam kariernya, sebelum sempat main dengan Woody Herman (1969), pernah bermain dengan nama-nama besar, seperti Bob Chester (1948), Benny Goodman (1954) dan Dizzy Gillespie (1960).


Yang tidak bisa dipungkiri memiliki penggemar cukup banyak adalah gitaris Lee Ritenour yang tampil pada hari kedua. Hal ini bisa dilihat dari penjualan tiket menonton Lee sudah habis sejak sebulan sebelum pertunjukan itu sendiri. Tidak hanya di Indonesia, ternyata di negeri pulau itu penggemar jazz fusion memang jauh lebih banyak dibandingkan dengan jazz mainstream. Yang juga menyamai prestasi Ritenour dalam penjualan tiket adalah Take 6. Begitu banyak anak muda mengelu-elukan mereka. Kalau Ritenour tampil bersama Ernie Watt menyajikan fusion yang kental, tidak begitu dengan Take 6. Mereka masih mau back to basic mendendangkan On The Sunny Side of The Street karya Jimmy McHugh/D.Fields. Salah satu kehebatan Take 6, selain keenam personilnya pandai menirukan bunyi alat musik, termasuk perkusi, sangat kompak dan tampil komunikatif.


Minggu (20/5) malam sebagai malam terakhir festival, publik jazz Singapura menunggu penampilan peniup trumpet asal Jepang, Terumasa Hino (59) bersama The Asia/America All Stars. Terumasa yang juga kakak kandung Motohiko Hino (dramer) ini mampu memuaskan penonton dengan musiknya. Terumasa yang diketahui banyak berkutat membuat album-album jazz rock pada era tujuh puluhan atau awal delapan puluhan memang cukup brilian dalam memilih tone. Ia tergolong lebih dekat kepada musik Miles Davis, tetapi cara bermainnya (pipi yang menggelembung dan batang trumpet yang bengkok) mengingatkan orang pada Dizzy Gillespie.


Gillespie

Puncaknya adalah penampilan sang legendaris James Moody yang kini sudah berusia 75 tahun dalam grup yang diberi nama The Dizzy Gillespie Alumni. Terlihat sekali, dari usia para penonton, sebagian besar berumur, merupakan penggemar Moody dan penikmat mainstream. Boleh jadi, grup ini diberi nama The Dizzy Gillespie karena para personilnya, seperti John Lee (bas), Jon Faddis (trumpet) dan Slide Hampton (trombon) pernah main bersama Gillespie. Moody sendiri dalam kariernya, banyak bekerja dengan Gillespie. Sebelum melakukan rekaman untuk I'm In The Mood For Love (1949), Moody bergabung dengan Dizzy Gillespie Orchestra (1943-1946).

The Dizzy Gillespie Alumni dengan rhythm section Benny Green (37) (piano), Ed Cherry (45) (gitar) dan Dennis Mackrel (39) (dram) lebih banyak memainkan bebop. Mereka tidak hanya beruasaha 'menghidupkan' Gillespie dengan memainkan lagu A Night In Tunisia, tetapi juga menampilkan dua tokoh bebop Gillespie-Parker lewat lagu Salt Peanut (Gillespie-Clarke). Seakan Jon Faddis ingin mengulang kesuksesan lagu ini ketika dibawakan Gillespie-Parker di Massey Hall, Kanada, tahun 1953 bersama Bud Powell, Charlie Mingus dan Max Roach, seperti terekam dalam album Jazz At Massey Hall. "Salt Peanut, Salt Peanut!" begitu teriak Faddis menirukan Gillespie yang urakan itu.


Begitu hidupnya permainan The Dizzy Gillespie Alumni ini membuat penonton senang meminta Moody dan kawan-kawannya menambah lagu untuk ditampilkan. Sudah diberi tambahan satu lagu, masih juga belum beranjak, terus melakukan standing applause dan baru mau pulang setelah lagu tambahan kedua. Moody sempat membawakan lagu There I Go, There I Go Again (Moody-Eddie Jefferson) atau orang lebih banyak mengenal dengan Moody's Mood For Love, sebuah lagu yang terinspirasi dari I'm In The Mood For Love dari Jimmy McHugh/D.Fields. Lagu ini betul-betul mendapat sambutan luar biasa malam itu, ketika Moody sendiri yang menyanyikan.

Jika umumnya jam session dilakukan di penghujung kegiatan festival, tidak begitu dengan yang terjadi di SIJF. Jeremy Monteiro mempertunjukkan pada Minggu siang, juga di Suntec Convention Hall lewat acara All Star Variety Show. Peristiwa ini sungguh menarik dan begitu menyenangkan, baik dari segi musik maupun tontonan, ketika Jeremy memasang sekaligus dua pemain double bass, Eldee Young dan Jay Anderson dan dua pemain dram, Michael Carvin dan Redd Holt lewat lagu Billie's Bounce dari Charlie Parker.-



Dibaca: 00964 kali
   »
   »