Video »

Video Lainnya:

Update: 29 / 06 / 2014
In Memoriam Embong Rahardjo

SUARA PEMBARUAN DAILY 31 November 2001


Embong Telah Tiada

INDONESIA kembali kehilangan salah satu pemain musik yang selama ini dikenal banyak berkecimpung dalam dunia jazz, Embong Rahardjo. Pria kelahiran Solo, 23 Januari 1950, ini meninggal dunia pada hari Jumat (30/11) pukul 10.00 WIB di Rumah Sakit Tria Dipa, Jakarta Selatan.

Selama dua pekan, sejak Rabu (14/11), pemain saksofon itu dirawat di rumah sakit akibat penyakit asam urat yang dideritanya sejak beberapa waktu lalu. Demikian keterangan adik kandung Embong, Didiek SSS, tentang sakitnya sang kakak. Jenazahnya dikebumikan Sabtu (1/12) siang di Taman Pemakaman Umum Pondok Rangon, Jakarta Timur.

Sejak kemarin, suasana Rumah Duka St Carolus, Jakarta Pusat, di mana Embong disemayamkan, cukup ramai. Selain begitu banyak karangan bunga, juga para seniman musik dan film tampak datang melayat. Hampir semua musisi jazz yang hadir membicarakan karier serta sakitnya Embong.

Terlihat Titik Puspa, Rima Melati bersama Frans Tumbuan, Melky Goeslaw, Yuni Shara, sampai Maribeth, dan masih banyak lainnya datang melayat. Sebagian tampak melakukan misa bersama pada malam hari. Embong meninggalkan seorang istri Mieke Rahardjo (47) dan tiga putri, masing-masing Lany (29), Yuyun (28), dan Beby (24).

Tentang meninggalnya Embong, Didiek yang juga dikenal sebagai peniup saksofon menceriterakan, dia merasakan firasat aneh pada sang kakak ketika baru pulang dari North Sea Jazz Festival di Den Haag, pertengahan Juli lalu. "Waktu itu, sepulang dari Den Haag, Mas Embong memberi saya oleh-oleh dasi dan kaus. Mas Embong mengatakan, Diek kalau kamu bisa berangkat ke North Sea tahun depan berangkat saja. Aku sudah nggak mungkin ke sana lagi. Ucapan itu menjadi pikiran saya, sebab saat itu Mas Embong kan nggak sakit," tutur Didiek.

Boleh jadi Didiek benar tentang firasatnya. Saat tampil di North Sea Jazz Festival tanggal 15 Juli lalu, sekitar pukul 01.30, Embong yang tampil bersama Jakarta All Stars (dengan personel Kiboud Maulana, Jeffry Tahalelle, Idang Rasidi, Cendy Luntungan, Aji Rao, dan Syaharani) sempat bersitegang dengan panitia pertunjukan. Pasalnya, waktu yang disediakan untuk Jakarta All Stars sudah habis, tetapi penonton tidak mau pulang, minta dimainkan satu lagu lagi.

Tanpa mengindahkan teguran dari panitia, Embong langsung meniup saksofon, diikuti personel lain yang mengiringinya. Penonton pun bertepuk tangan. Panitia tidak mampu mencegah.

"Nesu yo ben wae, kapan maneh main nang North Sea (marah biar saja, kapan lagi main di North Sea)," ujar Embong dalam bahasa Jawa kepada penulis seusai pertunjukan.

Kapan lagi? Ternyata Embong memang tidak pernah lagi tampil di North Sea Jazz Festival.

Untuk North Sea Jazz Festival, Embong merupakan musisi Indonesia yang cukup banyak tampil di festival jazz yang paling bergengsi di dunia itu. Nama Embong seperti sebuah jaminan dalam bermusik, seperti dibuktikan dalam grup yang memakai nama dirinya.

Tahun 1988, Peter F Gontha membentuk Embong Rahardjo Band dalam persiapan menuju North Sea Jazz Festival. Kemudian, tahun 1995 nama Embong juga menjadi nama sebuah grup yang personelnya, kecuali dirinya, berasal dari Amerika Serikat semua, yaitu Embong Project. Embong juga mendapat kehormatan tampil main dengan pianis dan komposer kenamaan dunia, David Foster, di Jakarta.

Lebih Keras Berlatih

Berbicara soal Embong, Benny Likumahua menceriterakan, mereka bertemu pada tahun 1976 untuk main bersama tiga musisi lainnya, Bubi Chen, Jack Lesmana, dan Hasan. Dari Jakarta, mereka memboyong peralatan rekaman milik Hidayat menuju Surabaya untuk rekaman di Radio Suara Merdeka milik Wiliam Wongso. Mereka merekam tiga album, salah satunya berjudul Kau dan Aku, kemudian dua album lainnya mengiringi penyanyi Margie Segers.

"Saat itu, saya melihat, Embong memiliki kemampuan meniup flute yang luar biasa. Saya tahu, itu hasil kerja keras dengan bimbingan Maryono. Tetapi, Embong lebih keras berlatih dibanding Maryono sehingga dia dapat memetik hasilnya di kemudian hari. Seperti sekarang," ungkap Benny Likumahua, peniup trombone.

Apa yang dikatakan Benny Likumahua tentang Embong yang begitu keras dalam berlatih boleh jadi benar. Embong, anak nomor dua dari delapan bersaudara ini, sudah tertarik dengan alat musik tiup sejak kecil. Meskipun ayahnya, Soenarno, menga-jarinya main piano (klasik).

Embong belajar musik tiup dengan menggunakan saksofon dan flute yang kondisinya sudah rusak. Ada bagian alat musik itu yang bocor sehingga harus ditambal dengan lilin dan sebagian pirnya yang kendur diganti dengan karet.

Maryono kagum terhadap Embong yang mampu memainkan alat tiup bocor. Diperlukan ekstra tenaga dalam meniup alat tersebut. Maryo-no sendiri mengaku tidak mampu seperti Embong.

Maryono mengajak Embong bergabung dalam Maryono And His Gang sekitar ta-hun 1974 karena melihat Embong yang punya bakat dalam memainkan musik jazz. Tetapi sebelumnya, saat usianya masih 15 tahun, Embong sudah main musik bergabung dengan Grup Lokaria di Surabaya. Salah satu personelnya adalah Karim Tes, peniup trumpet. Lokaria merupakan kelompok musik yang main dari kota ke kota, tetapi tidak memainkan musik jazz.

"Lokaria itu seperti band yang ada pada Grup Srimulat. Usia saya masih 10 tahun waktu itu. Saya sering nonton Mas Embong main musik di Surabaya. Saya ketemu dan kenal Mas Embong di Jakarta sekitar tahun 1980-an, karena sering mengantar istri saya menyanyi di Green Pub. Waktu itu saya masih pacaran," ceritera pemain bas Jeffry Tahalele, suami dari penyanyi Aska Daulika.

Karier Embong terus melejit setelah menetap di Jakarta dan sering tampil di TVRI dalam acara Candra Kirana, Nada dan Improvisasi, Nada dan Apresiasi, serta lainnya. Tahun 1973 sampai 1976, Embong banyak main di kota-kota besar Asia, Eropa, dan Amerika. Sepuluh tahun kemudian Embong tampil di North Sea Jazz Festival bersama Grup Wong Emas.

Tahun 1988, ketika Embong mendapat kontrak rekaman di AS, ditangani pianis jazz Bob James, ia memanfaatkan waktu di luar rekaman untuk mengunjungi klub-klub jazz dan menyempatkan diri main dengan musisi AS. Dari sinilah, kemampuan Embong dalam memainkan musik jazz semakin bertambah. Corak musik Embong terasa mengarah kepada permainan dari David Sanborn dan Grover Washington, meskipun ia tidak menyangkal juga tidak membenarkannya, ketika ditanya hal itu.

"Musik itu universal," katanya singkat. Dari rumah duka, kemarin, salah seorang penggemar musik jazz, Roy Mesman, merencanakan membuat album khusus untuk mengenang kepergian Embong Rahardjo. "Ini tawaran bagus. Kenapa tidak langsung diiyakan saja? Apa sulitnya? Ini itikad baik. Saya setuju," kata Didiek menjawab tawaran Roy yang muncul secara tiba-tiba itu.

"Ya, kita segera pikirkan setelah suasana duka ini. Kita bicara di Jamz nanti," timpal Roy lagi.

Kini, peniup saksofon itu sudah tiada. Semoga perjuangan dan upaya menyemarakkan dunia jazz Indonesia yang dilakukan Embong Rahardjo tidak sia-sia. Kepergian Embong hendaknya bisa dijadikan sebagai kebangkitan Embong-Embong muda lainnya sehingga regenerasi pemusik jazz, khususnya peniup saksofone di Indonesia, berjalan lancar dan marak.

Selamat jalan, Mas Embong Rahardjo! 



Dibaca: 01928 kali
   »
   »