SKA  Kelompok musik Jun Fan Gung Foo


  Video »

Video Lainnya:

Update: 28 / 06 / 2014
Demam Ska dalam Industri Musik Indonesia

Kelompok musik Jun Fan Gung Foo termasuk salah satu grup yang mengusung musik ska.

usik ska sedang mengalami kejayaannya di Indonesia belakangan ini. Lihat saja, sebagian besar anak muda tergila- gila mendengarkan musik yang diadopsi dari Afrika ini. Dandanan dan gaya mereka ‘seirama’ dengan warna musik yang beat-nya sangat dinamis ini. Perusahaan rekaman pun tidak mau ketinggalan, terlanda ‘demam ska’. Hampir semua perusahaan rekaman besar di Indonesia mengeluarkan album ska.

Tercatat, sedikitnya ada sepuluh album musik ska lokal beredar di pasaran Indonesia pada awal ska melanda Jakarta dan kota-kota besar lainnya. Dipastikan, jumlahnya segera bertambah dan mampu menembus angka 20 album rekaman ska. Perusahaan rekaman Aquarius, misalnya, setelah mengeluarkan kelompok Tipe-x langsung merilis Kinder Garden dan Klarinet. Begitu juga Sony Music, setelah sukses dengan Jun Fan Gung Foo (JFGF) merencanakan merilis Ska Mania (kompilasi dari band-band ska di Indonesia) pada Maret 2000 ini. Pendeknya, ska memang sedang naik daun.

Dari perusahaan lain ada Purpose Tiger Clan (BMG), Artificial Life (Indosemar Sakti), Permen dan Ska Klinik (Musica) dan masih banyak lainnya. Jumlah rekaman grup yang beredar secara resmi sekarang ini di toko-toko kaset cukup banyak, belum termasuk yang ilegal. Sebelum perusahaan rekaman bersedia merekam musik dari band-band ska, para pemusik ska ini sudah melakukan rekaman dengan beaya mereka sendiri. Hasil rekaman dalam bentuk kaset tersebut kemudian dijual secara gerilya di antara sesama anak muda atau rekan sendiri dan juga dikirim (ditawarkan) ke perusahaan rekaman. Jumlah yang dijual, meskipun tidak banyak, berkisar antara seribu kopi. Tetapi semangat para skamania yang mandiri ini layak dihormati. Hal itu masih terjadi sampai sekarang

Kabarnya, sampai saat ini, penjualan album Tipe-X sudah mencapai 310 ribu kopi. Sementara JFGF yang baru tiga bulan diluncurkan sudah mencapai 100 ribu kopi dan yang lainnya, meskipun belum unggul namun mereka telah menembus angka 50.000 kopi. “Awal promosi Purpose Tiger Clan kami lakukan di Bandung. Mereka memang grup asal Bandung dan sudah mempunyai massa di sana. Album mereka langsung terjual sebanyak 20.000 kopi. Sampai sekarang sudah sekitar 50.000 terjual,” kata Julia dari BMG.
Mandiri

Umumnya, para pemusik ska di Idonesia ini masih sangat muda-muda dan kata “komersial” belum ada di otak mereka. Mereka tidak bicara soal honor kontrak, ketika mulai masuk dapur rekaman secara komersial. “Yang penting bagi kami main musik. Sudah masuk dapur rekaman saja sudah senang. Selama ini, kami manggung di berbagai tempat uangnya dikumpulkan untuk menyewa studio rekaman. Hasil rekamannya, ya, untuk di dengar sendiri,” kata Dawny, salah seorang personil JFGF yang mengaku, sebelum rekaman, grupnya hanya mendapat bayaran Rp 50.000 sekali manggung. Bahkan sering tidak dibayar.”Yang penting bisa main, bisa manggung,” tambahnya.

Yang menarik dari grup-grup band ska tersebut adalah kemandirian personel atau grup masing-masing serta memiliki percaya diri yang tinggi. Mereka yang sudah masuk dapur rekaman, semuanya merupakan grup yang sudah besar di panggung dan mempunyai massa atau fans sendiri-sendiri. Jam terbang mereka di dunia panggung cukup lumayan sehingga ketika masuk dapur rekaman tidak mengalami ‘demam’ lagi. Berbeda dengan kebanyakan penyanyi karbitan yang terpaksa memanfaatkan bantuan alat untuk mendongkrak keindahan suaranya dalam rekaman, grogi dan menyita waktu rekaman.

Selain itu, uniknya, nama grup-grup musik ska ini seperti keluar dari umumnya nama-nama grup musik. Contohnya, Tipe-x yang dikenal orang sebagai alat penghapus salah ketik. Bahkan, jika orang yang belum mengenal mereka, sulit menduga kalau nama seperti Jun Funk Gung Foo adalah nama kelompok musik. Selama ini, terutama bagi penggemar silat kung fu, Jun Funk Gung Foo adalah nama perguruan silat milik tokoh Kung Fu, Bruce Lee di Amerika sana. “Waktu mau latihan, tiba-tiba ada film kung fu di HBO (televisi). Kami nonton dulu, terus, ya, sudah, sepakat, nama grup kami itu sajalah,” cerita Dawny.

Masih ada lagi nama-nama unik, yaitu Collonyet dan Black Sky dari Yogyakarta, Djaua Band dari Semarang dan yang lebih aneh lagi adalah T’lphene Umum juga dari Jakarta. Lagu dari grup-grup ‘asal nama’ inilah yang akan segera beredar pada Maret 2000 nanti.
Sampai kapankah ‘demam ska’ ini akan berakhir, memang, sulit ditebak. Namun sejumlah perusahaan rekaman memperkirakan sekitar dua tahun ke depan warna ska sudah ditinggalkan penggemarnya. Kunto dari Sony Music dan Julia dari BMG memprediksi sekitar tahun 2002 demam ska sudah mulai menurun, kalau tidak mau dikatakan mulai ditinggalkan orang. Sementara Dodo Abdulah dari Aquarius meramal baru tahun 2004 ska tidak lagi diminati. Perkiraan Dodo didasarkan pada pengalaman musik alternatif yang hanya lima tahun, 1995-1999 atau musik rap dari tahun 1992 sampai 1997 dan lainnya.

Sejarah
Dalam sejarahnya, musik ska, sebetulnya, lebih dahulu lahir ketimbang musik reggae yang identik dengan Bob Marley itu. Sejumlah media, belakangan sudah banyak menulis sejarah musik ska. Musik ini memang berasal dari Jamaika. Banyak menilai, ska lahir sekitar tahun limapuluhan dan kemudian ikut berimigrasi ke Inggris melalui orang-orang kulit hitam pada tahun tujuh puluhan. Kalau pada musik rock’n roll ada nama Elvis Presley, pada reggae ada nama Bob Marley, maka pada musik ska, Desmond Dekkar diakui sebagai salah satu tokohnya.

Dalam perkembangannya musik ska kalah populer dibandingkan reggae yang lahir belakangan. Hal ini terjadi karena sebagai suatu jenis musik, progresif ska lebih sedikit dan membonsankan dibanding reggae atau musik lainnya.

Seperti itulah, umumnya, musik-musik Afrika atau orang menyebutnya sebagai musik Afro. Reggae sendiri, lebih luwes, lebih progresif, lebih kontemporer sehingga jenis musik ini bisa lebih mudah beradaptasi dengan jenis musik lain. Misalnya, dengan musik jazz seperti yang disajikan Maxie Tries atau Sting dari The Police yang juga ikut mengadopsi ska dalam musiknya.

Beat pada ska juga tidak beda dengan musik-musik Afrika umumnya. Bedanya, pada ska lebih cepat temponya.
Kemudian musisi Inggris memasukkan unsur rock pada ska agar lebih hidup dan bisa dinikmati banyak orang. Unsur horn atau bras, boleh jadi, untuk menutupi kekurangan pada musik ska itu sendiri. Sebab, pada dasarnya ska lahir tanpa bras.

Bisa dibayangkan, jika ska tidak berimigrasi ke Inggris, mungkin tetap dilupakan orang. Tidak bisa dipungkiri kalau kemudian ska yang sekarang ini lahir dan dibaptis di Inggris karena lewat negeri ini ska dikawinkan dengan rock, punk dan sebagainya, kemudian menjadi musik yang hidup dan cukup dinamis. Musisi Inggris telah berjasa besar atas lahirnya musik itu.

Dibaca: 02423 kali
   »
   »