Dave Koz  Peniup saksofon asal Kalifornia, “pelesir” ke Indonesia


  Video »

Video Lainnya:

Update: 28 / 06 / 2014
Dave Koz, antara Jazz dan Pop

Dave Koz, peniup saksofon asal Kalifornia, “pelesir” ke Indonesia dan merencanakan membuat pertunjukan di tujuh kota besar, April nanti. Kehadirannya kali ini tentunya bertujuan untuk mempromosikan album terbarunya berjudul The Dance. Ia mengaku memilih tur ke Indonesia karena memiliki banyak penggemarnya. Khusus untuk Jakarta, sejak Minggu sampai Selasa ini, Dave Koz main di sejumlah tempat, antara lain di Jamz Pub, Minggu (20/2) malam.

Praktis setiap dua tahun sekali Dave Koz membuat album. Album berjudul Dave Koz yang dibuatnya tahun 1993 laku keras di Indonesia. Penjualan album-album Dave Koz laku sampai 35.000 kopi. Tahun 1995 Koz kembali merilis album Lucky Man dan lagi-lagi laku sampai 35.000 kopi. Tetapi album Off The Beaten Path tahun 1997 kurang laku, hanya 15.000 kopi. Album The Dance yang dirilis 14 Februari 2000 lalu sampai sekarang belum ketahuan hasilnya.


Menyimak permainan Dave Koz dari album ke album, begitu juga setiap penampilannya, terasa belum ada perbedaan berarti. Musik Koz masih tergolong manis, romantis, mendayu-dayu dan tidak banyak berbeda dengan apa yang disajikan peniup saksofon sopran Kenny G. Kesan pop masih lebih dominan dibandingkan warna jazz, seperti yang selama ini dikatakan banyak penggemarnya di Indonesia bahwa Dave Koz adalah musisi jazz. Sebutan jazz pop, mungkin, lebih cocok buat album-album Dave Koz.


Dibanding dengan album- album pemusik jazz lainnya, seperti Bob Berg, David Sanborn atau pianis David Benoit yang ikut main dalam album The Dance, album Dave Koz tergolong laku di Indonesia. Tidak bisa dipungkiri, melihat setiap pertunjukannya di Indonesia yang selalu dipadati penonton, membuktikan, penggemar Dave Koz cukup banyak di Indonesia. Boleh jadi, semua itu berkat kepiawaian Koz dalam membangun komunikasi dengan penonton atau penggemarnya. Dan, ia memang cocok disebut sebagai seorang entertainer daripada jazzer. Ia ganteng, pandai memainkan saksofon, mampu berkomunikasi, bahkan humor- humornya yang dilempar ke penonton dari panggung cukup segar dan mampu membuat mereka senang dan tenang.


Begitu juga saat pertunjukan di Jamz, Minggu (20/2) malam. Tidak ada penonton yang protes, semuanya tampak menikmati. Padahal pada awal penampilannya, kalau mau jujur, Dave Koz telah ‘menipu’ penonton dengan permainannya yang diiringi musik minus one. Sesuatu yang seharusnya tidak dilakukan oleh seorang Dave Koz yang mempunyai nama besar. Sebab, jika ada alasan khawatir karena musisi di Indonesia, belum siap mengiringi Koz sangatlah dibuat-buat. Setidaknya, Koz bisa lebih dahulu mengirimkan materi musik yang akan dimainkannya. Buat grup Jakarta All Stars (Kiboud Maulana, Idang Rasyidi, Cindy Luntungan, Jeffry Tahalele dan Embong Raharjo), malam itu ber-jam session dengan Dave Koz, bukanlah hal sulit untuk mempelajarai atau memainkan materi yang dikirim Koz lebih dahulu. Apalagi Koz hanya memainkan lagu yang sudah ada dalam album barunya dan sudah beredar di Indonesia. Tapi, sekali lagi, penonton senang.


Dengan minus one, permainan Dave Koz jelas sulit berkembang. Penikmat musik sejati yang ingin menyaksikan live Dave Koz jelas tidak puas. Tidak ada gregetnya. Apalagi saat coda, di mana umumnya sesama musisi saling mendukung, feeling mereka bertemu secara pas. Orang tidak tahu, apakah Dave Koz berhasil ‘mendapatkan’ coda atau tidak, sebab ketika musik pengiringnya sudah selesai ia masih melayang-layang. Lewat iringan musik minus one tadi, Dave Koz sempat memainkan enam lagu, sebagian besar lagu dalam album barunya.

Tak Egois
Tetapi Dave Koz tidak egois, ia menyempatkan diri main bersama Jakarta All Stars dan melakukan jam session dengan Embong Rahardjo, Kevin Praja dan Bertha (vokalis). Lewat penampilan ini baru terasa ada “pertunjukan jazz” di ruang Jamz Pub malam itu. Dua nomor dibawakan Dave Koz, yaitu Jellow Line dan All Blues-nya Miles Davis pada tengah malam di penghujung pertunjukan.
Jam session berlangsung menarik. Masing-masing musisi menunjukkan kelasnya. Terbukti, musisi Indonesia juga tidak kalah piawai dengan Dave Koz. Mungkin faktor kesempatan dan tempat (Embong di Pondok Gede dan Dave Koz di Los Angeles) yang membuat Dave Koz lebih mendunia. Memang dalam dunia jazz membandingkan permainan musisi satu dengan lainnya adalah tabu, tetapi jika disimak, tiupan Embong masih lebih ‘galak’ dibandingkan Koz.


Saat tampil bersama Bertha, terjadi dialog. Bertha memancing, Koz melayani dan orang pun bertepuk tangan, begitu juga yang kedua kali.


Jika sebagian publik Indonesia atau penggemar Kenny G dan Dave Koz menempatkan mereka pada koridor jazz, maka Dave Koz lebih bertanggung jawab atas predikat itu. Kenny terkesan lebih mengutamakan komersial lewat album- albumnnya. Pengaruh musisi jazz seperti David Sanborn atau Grover Washington Jr, misalnya, seperti ada pada gaya Dave Koz. Keduanya sulit mengelak dari tuduhan memasuki dunia jazz atau sengaja memainkan jazz.


Hal itu bisa disimak dari album terbaru Kenny G yang menggaet gitaris George Benson dan ‘duet’ dengan Louis Armstrong lewat lagu What A Wonderful World. Begitu juga dengan Dave Koz yang mengajak pianis David Benoit serta pemain perkusi Paulinho Da Costa dalam album The Dance ini. Ia memang lebih banyak memainkan pop jazz. Dalam album terbarunya Koz sudah membuka cakrawala dan menambah perbendaharaan pengetahuan jazz pecinta musik di Indonesia.


Album The Dance berisikan lagu-lagu yang dibuat Dave Koz dan kakaknya, Jeff Koz. Dua lagu yang sudah dikenal publik ikut diselipkan Koz, yaitu I’ll Be There (Berry Gordy Jr) dan Careless Whisper dari George Michael. Sebagai andalan album ini, selain The Dance (Tony Arata), Koz juga memainkan lagu berjudul Cheng Fu yang ditulis Yuan dan Wei-Jen.



Dibaca: 01513 kali
   »
   »