Video »

Video Lainnya:

Update: 21 02 2015
EDDY KOKO, Dari Angon Bebek sampai Dunia Wartawan

JIKA saat ini Eddy Koko menduduki jabatan Pemimpin Redaksi (Pemred) di Radio Trijaya Networks adalah sebuah perjalanan panjang karirnya di dunia kewartawanan. Pria kelahiran Jakrta, 18 November 1959 ini berangkat dari seorang penulis lepas, kemudian wartawan tetap, redaktur sampai Pemred.

    Meskipun lahir di Jakarta namun Koko besar di Kota Metro sekitar 48 km dari Bandarlampung. Sempat tiga tahun masa kecilnya di Seputih Banyak, Lampung Tengah. Ketika itu sang ayahnya bertugas sebagai Kepala Seksi Kantor Transmigrasi Lampung harus mengurus bedol desa korban letusan Gunung Agung, Bali yang ditransmigrasikan ke Seputih Banyak. Tahun 1967 kemudian keluarga mereka pindah ke Metro dan Koko menyelesaikan sekolah dari SD sampai SMA di kota ini.

     Anak kedua dari enam bersaudara ini begitu lekat ingatannya pada suasana masa kecilnya. Dulu, katanya, Seputih Banyak, sekitar 100 kilometer dari Bandar Lampung, masih setengah hutan. Yang tidak bisa Koko lupakan adalah begitu banyak binatang ular. Maklum lahan hutan kemudian dibabat menjadi kawasan tempat tinggal. Tonggak kayu bekas pohon yang ditebang tampak di sekitar rumah. Jarak rumah satu dengan lainnya bisa mencapai 100 meter dan bisa dihitung jumlahnya.

           “Saya masih ingat, tiap hari ada saja ular masuk rumah. Sungguh ular tak tau diri, kadang masuk ruang tamu begitu saja. Kadang tau-tau sudah mendekam di kamar belakang. Kalau ingat masa kecil, saya selalu ngeri. Ada suatu kali ular besar mau masuk rumah waktu dilempar bapak saya pakai balok dia melawan. Kita kabur,” cerita Eddy Setyoko mengenang masa kecilnya di kawasan transmigran.

 
Angon Bebek

    Kondisi ekonomi yang tidak baik mengharuskan Koko ikut membantu orang tuanya mencari tambahan keuangan. Usai pulang sekolah kelas satu SD jadwal rutinnya adalah makan kemudian diwajibkan naik tempat tidur sampai sekitar pukul empat sore. Setelah itu menggembala itik ke sawah sampai menjelang maghrib. Malam hari belajar dan mengerjakan pekerjaan rumah (PR) dari sekolah yang setiap hari selalu ada. Pagi ayahnya sudah bangun memungut telur itik kemudian ada yg datang membeli.


    ”Saya senang menggembala itik. Di sawah bertemu teman-teman seusia yang sedang memandikan kerbau atau memancing. Suatu kali saya lengah, asyik ikut mandikan kerbau teman, itik saya yang jumlahnya 40 ekor nyasar ke sawah yang baru ditanami padi. Tanaman padi satu lahan habis dimakan bebek saya. Saya panik. Saya giring bebek pulang, tidak berceritera kepada bapak dan ibuku. Tapi malamnya yang punya sawah datang ke rumah. Bapak harus mengganti tanaman padi seraya mohon maaf,” kenang Koko sambil mengungkapkan rasa tidak nyaman jika ingat hal itu.

    Seingat Koko, saat kelas tiga SD masuk siang, paginya pernah ikut antri beras murah dari pemerintah. Satu orang pengantri diizinkan membeli empat kilogram beras. “Pada masa sekarang kita lihat orang antre berjam-jam mengular untuk beli gadget. Tapi ada juga yang antre bensin, antre sembako di beberapa daerah. Tapi itu bukan karena negara sedang dilanda kemiskinan, lebih disebabkan negara salah urus. Mungkin juga tidak diurus sehingga muncul istilah auto pilot,” ujarnya.

 

Mengenal Berita

    Hidup dalam ekonomi kurang baik dialami keluarga Koko tak membuat ayahnya melupakan ilmu pengetahuan untuk anak-anaknya. Ayahnya selalu menyempatkan membawa bahan bacaan ke rumah, seperti Majalah Intisari, majalah berbahasa jawa Penyebar Semangat dan lainnya. Koko kecil sudah lancar membaca sejak kelas satu SD. Ketika tugas di Jakarta, sebelum pecah Peristiwa G30s/PKI, kondisi keuangan ayahnya normal, sehingga sempat membeli pesawat radio transistor.


    Radio pada masa itu merupakan barang langka. Alat ini dinilai penting oleh Sutamar ayah Koko, sehingga tidak dijual. Maka, suasana rumah Koko tergolong kontras karena meskipun dinding bambu tapi ada suara radio. Banyak tetangga berkumpul di rumah jika malam minggu atau ada siaran pandangan mata pertandingan bulu tangkis. Mereka bersama-sama mendengarkan radio.


    Kebiasaan mendengarkan berita sudah terjadi sejak masa anak-anak melalui RRI, BBC dan Radio Australia. Tidak setiap hari tetapi Koko kecil sudah mengenal berita sejak masih duduk di bangku SD. Seingatnya, kelas lima SD warta berita RRI pukul tujuh pagi menjadi patokannya berangkat ke sekolah jalan kaki.

    Menurut Koko, memiliki radio pada saat itu tidak mengkhawatirkan. Yang menjadi masalah adalah mempunyai buku-buku Bung Karno. Ayah Koko memiliki buku Bung Karno dari kumpulan pidato sampai buku berjudul “Di Bawah Bendera Revolusi” dua jilid yang terpaksa disimpan di bawah lemari. “Terkadang saya curi-curi untuk membaca. Ingin tahu saja. Buku itu selamat dan kemudian dihibahkan ke saya sama Bapak,” tuturnya.

 

Ke Jakarta

    Setelah tamat SD, Eddy melanjutkan sekolah di SMP Negeri 1 Metro (dahulu SMP Negeri saja), kemudian SMA Yos Sudarso Metro. Pada usia remaja tahun 70-an, seperti remaja umumnya, Koko suka sekali musik. Melalui radio Koko mendengarkan musik di RRI dan Radio Australia dengan dua penyiar yang tidak pernah dia lupa antara lain Ebet Kadarusman serta Nuim Khayat. Sekitar 30 tahun kemudian Koko bertemu dua penyiar tersebut di Radio Trijaya FM dalam sebuah acara diskusi.

     Selesai SMA tahun 1981, Koko pun berangkat ke Jakarta untuk sekolah di Sekolah Tinggi Publisistik. Ayahnya lebih suka Koko sekolah di Lampung tapi ia ingin jadi wartawan sejak kecil, terinspirasi ceritera ditektif yang dibacanya. Kerja ditektif, menurutnya, mirip kerja wartawan. Maka Koko nekat ke Jakarta. Ayahnya tetap mengirim uang setiap bulan sebesar Rp. 15.000 diluar sewa rumah yang sudah dibayar ayahnya setahun. “Harga nasi soto campur semangkuk waktu itu Rp. 75,- dan ongkos bis kota Rp. 30,-. Uang masuk kuliah masih Rp. 150.000,-. Harga buku mahal sejak dulu,” kenangnya.

 

leftDunia Wartawan

    Uang kiriman orang tua tiap bulan, menurut Koko, selalu habis pada minggu kedua. Untuk menghidupi kehidupannya di Jakarta, Koko menjadi penulis lepas, tulisannya diikirimn ke berbagai media. Seperti Kompas, Sinar Harapan, Berita Buana dan lainnya. Karya pertamnya sebagai wartawan dimuat Kompas pada tanggal 14 Agustus 1981 berupa foto lepas dengan honor Rp. 5 ribu bertemakan tenaga kerja Berselang dua hari, tepatnya 16 Agustus 1981, artikel tentang pelukis Agus Jaya sedang pameran di Taman Ismail Marzuki (TIM) dimuat Sinar Harapan dengan honor Rp15 ribu. Hal itu membuatnya semangat terus menulis.

    Tahun ketiga kuliah, kegiatan menulis lebih dominan dan dirasa sangat menghasilkan uang. Ketika tahun 1984 Ashadi Siregar lewat Lembaga Pendidikan Penelitian dan Pengembangan Yogya (LP3Y) membuka pelatihan jurnalistik, Koko ikut seleksi dan berangkat ke Yogya. Sepulang dari Yogya, koran Lampung Post menawari menjadi redaktur dan Koko berangkat kerja di Tanjung Karang, sekarang Bandarlampung. Praktis bangku kuliah dia tinggalkan dan hal ini membuat kedua orang tuanya kecewa.

Perjalanan Karir

    Tiga tahun di Koran Lampung Post, Koko kembali ke Jakarta karena ingin berkarir lebih baik dalam ilmu dan pengalaman. Sebentar bekerja di Majalah Mobil & Motor, selanjutnya pindah ke Koran Jayakarta milik Kodam Jaya yang dikelola oleh Suara Pembaruan dari tahun 1989 hingga 1999. Setelah Koran Jayakarta tutup, Koko banyak menulis liputan khusus untuk Suara Pembaruan terutama seni dan budaya. Pada era itu Koko ikut membantu temannya, Lodhy Surya di PT. Surya Nada Indah Prima, menerbitkan album-album jazz dari musisi legendaris dunia. Termasuk album Bubi Chen dan Bill Saragih. Musik Jazz bagian dari hidup Eddy Koko.

    Usai dari Suara Pembaruan Grup, Koko sempat membangun Majalah Multi 2000 milik Multivision, kemudian mengelola Tabloid O. Tidak lama. Menurutnya, dunia infotainmen tidak cocok dengan jiwanya. Mengorek kehidupan pribadi seseorang walapun atas alasan mereka public figur tetap saja membuat Koko tidak nyaman, risih. Ketika tahun 2002 mendapat tawaran mengelola bagian pemberitaan Radio Trijaya FM, Koko merasa menemukan dunianya kembali. “Saya ngebut belajar soal radio. Dunia baru dalam kehidupan kewartawanan saya,” katanya.

    Sekitar dua tahun di Trijaya FM Jakarta, Koko sempat dikirim ikut mengelola Radio Trijaya Bandung yang baru dibangun. Kemudian tahun 2006 dikirim ke Palembang membangun Radio Trijaya FM Palembang. Dalam perkembangannya membangun sebelas Stasiun Trijaya dan Radio Dang Dut di Sumatera Selatan sampai 2008.

            Setahun sebelum Koko berangkat ke Palembang, Trijaya membuat Talkshow Polemik yang digawangi Koordinator Liputan saat itu, Asih Teguh. Kemudian hari, setelah Koko selesai tugas di Palembang, karirnya berlanjut di Jakarta menjadi Pemred Trijaya FM dan menangani Talkshow Polemik hingga saat ini. Polemik merupakan program yang, menurutnya, dia jaga dengan ketat dan serius. Sangat selektif Koko memilih nara sumber sebagai pembicara dan menentukan topik yang dibahas dalam Talkshow Radio Polemik.

    Dalam pengamatan Okezone, memang, banyak nama besar yang awalnya muncul dari acara Polemik. Sebagai media, Okezone dan media lainnya sangat diuntungkan dengan acara ini. Hadir setiap Sabtu secara rutin dengan nara sumber yang sedang dikejar semua media. Tidak heran jika semua media TV, online sampai cetak bahkan radio kompetiter hadir meliput Talkshow Polemik. Diakui Koko, salah satunya lewat acara ini dirinya banyak bergaul akrab dan diskusi dengan tokoh masyarakat, pengamat sampai pejabat.

Kehidupan Bertani

    Yang menarik dari kehidupan kesehariannya yang terkesan santai dan sederhana, Koko juga menyempatkan diri berkebun dan ternak lele. Sebagai petani cabe mengalami masa harga Rp. 80.000 pwr kilo tetapi juga sering jatuh sampai hanya Rp. 6.000 per kilogram. Masa kecilnya yang dulu tinggal di kawasan persawahan, membuat Koko tertarik menjadi petani dan sebagai hiburan untuk melepas penat setelah bekerja. Dari kegiatan inilah dia merasakan bagaimana penghasilan petani di Indonesia.

           “Dari pengalaman saya bertani, merasakan petani di Indonesia tidak akan pernah sejahtera. Sudah untung saja bagus. Petani Indonesia sangat baik hati dan pemurah, mereka tidak pernah menghargai waktu dan tenaga dirinya. Hanya pupuk, lahan, bibit, alat yang dihargai. Tenaga tidak. Kasihan petani,” tegasnya.


Lewat blog ini Eddy Koko Mencoba menuangkan pengalamannya sebagai seorang wartawan dalam bentuk tulisan atau kolom.***

* Artikel dikutip dari okezone.com, 2 januari 2014


Dibaca: 01854 kali
   »
   »