RADIO

INTERNET TIDAK ADA, PAKAI RADIO KOMUNITAS

Pembelajaran Jarak Jauh

   

 KETIKA Dekan  Fakultas Dakwah Intitut Perguruan Tinggi Ilmu Quran (PTIQ), Topikurohman Bedowi, minta saya bicara di depan mahasiswanya, tentang pemanfaatan radio siaran untuk berdakwah, seketika terkenang acara kuliah subuh Buya HAMKA di Radio Republik Indonesia (RRI) tahun tujuh puluhan. Acara setiap subuh dipagi yang sejuk, sesejuk isi dakwah dan suara Buya HAMKA, sangat membekas dalam ingatan. Termasuk lagu penutup karya Buya HAMKA berjudul Panggilan Jihad sangat bermakna dan menyentuh sehingga tertanam dalam memori otak dan hati sampai sekarang.

Selain soal dakwah Buya HAMKA  dan RRI, masih tahun tujuh puluhan, juga teringat siaran  Pelajaran Bahasa Inggris dari Radio Australia, disiarkan dari Melbourne ditangkap melalui gelombang pendek (SW) di Kota Metro, Lampung. Itu waktu televisi belum hadir di kota yang jauh dari Jakarta sehingga radio merupakan satu-satunya alat hiburan dan informasi.  Tetapi siaran RRI tidak 24 jam, hanya dari pukul 05.00 sampai pukul 24.00. Setelah itu kembali mendengarkan jangkrik di keheningan malam.

Begitu kuatnya kenangan media radio. Kekuatan radio sebagai media hiburan dan informasi, sejatinya, cukup efektif dan masih relevan. Alat komunikasi boleh berkembang pesat tetapi radio tidak terganggu keberadaanya. Cermati, hampir setiap orang sekarang mengantongi radio karena radio merupakan aplikasi standar setiap handphone.  Bahwa sedikit orang memanfaatkan aplikasi tersebut, itu soal lain.  Kreatifitas pengelola stasiun radio yang menentukan siarannya didengar orang atau tidak.

Mengenang dua program radio tadi, Kuliah Subuh (Dakwah) Buya Hamka dari RRI dan Pelajaran Bahasa Inggris Radio Australia membuktikan, radio terbukti  efektif dipakai untuk mengajarkan ilmu pengetahuan kepada publik. Maka pada saat pandemic Covid-19, Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) menggunakan media radio siaran, seperti dilakukan melalui RRI,  merupakan langkah tepat. Ini sebagai trobosan mengatasi persoalan ada tidaknya jaringan internet di suatu wilayah.

Dari acara PJJ yang sudah berjalan  melalui RRI, kritik yang perlu disampaikan adalah  banyak  guru tidak terbiasa tampil dalam ruang studio siaran.  Melihat microphone bisa jadi tampak seperti harimau di depan wajahnya. Demam studio. Itu hal yang wajar dan umum dirasakan pada banyak orang. Banyak pimpinan stasiun radio juga tidak berani omong depan microphone alias siaran. Tetapi hal itu dapat mengganggu kosentrasi guru dalam memberi pelajaran. Tentu tidak pada semua guru. Pelatihan dan mengakrabkan diri dengan studio perlu sesering mungkin, sebelum masuk siaran PJJ.  Durasi siaran dan rutinitas perlu dipikirkan karena sifat radio adalah media selintas, sehingga pendengar atau pelajar tidak bisa mengulang atau mendengarkan kembali yang diucapkan gurunya. Dalam kondisi demikian memutar rekaman siaran belajar tadi pada jam tertentu diperlukan.

Topik yang ramai dibahas dalam pelaksanaan PJJ adalah  banyak wilayah tidak terjangkau internet. Ketidakmampuan orang tua membelikan perangkat komputer atau handphone (HP). Sehingga banyak siswa tidak bisa ikut PJJ. Boleh jadi, akibat dibomardir masalah internet tersebut pemerintah melalui kementrian pendidikan dan kebudayaan (Kemendikbud) menggelontorkan dana Rp. 7,2 triliun untuk subsidi data internet/pulsa para siswa, mahasiswa, guru dan dosen.   Bagaimana dengan siswa di pelosok yang belum terjangkau internet dan tidak mampu beli HP? Diberi  pulsa HP untuk apa?

 

RADIO KOMUNITAS

Sejenak  lupakan persoalan internet dan HP dalam pelaksanaan PJJ dimasa  Covid-19. Coba diskusi penggunaan media radio untuk PJJ antara siswa dengan guru. Meskipun RRI dan TVRI  merupakan Lembaga Penyiaran Publik (LPP) tetapi lumayan  berat jika PJJ dilimpahkan hanya kepada RRI. Mengharapkan peran radio siaran swasta ikut serta melaksanakan PJJ, tampaknya, sulit. Tentu ada yang melakukan juga. Sebab dari yang terpublikasi mereka teriak bantuan pemerintah karena merasa berat bayar listrik dan gaji karyawan sementara pemasang iklan tiarap dulu. Pemanfaatan radio komunitas untuk PJJ perlu dipikirkan dan dimaksimalkan karena relatif murah, dekat kediaman  pelajar serta guru.

Atas inisiatif sendiri sejumlah radio komunitas di berbagai daerah  sudah menyelenggarakan PJJ tetapi baru puluhan stasiun. Padahal jumlahnya menurut Ketua Jaringan Radio Komunitas Indonesia (JRKI), Sinam Mitro Sutarno, mencapai sekitar 457 stasiun radio di 22 provinsi Indonesia. Banyak belum ikutan karena sebagian besar lokasi radio komunitas di wilayah terjangkau internet sehingga guru dan siswa memanfaatkan PJJ online. Selain itu ada juga kendala dana. Tetapi ada warga berinisiatif membangun “radio komunitas darurat” untuk PJJ seperti di Tentena (Sulawesi Tengah), Lembata (Nusa Tenggara Timur), Pekalongan dan Pemalang (Jawa Tengah) serta  Pringsewu (Lampung). Contoh di Desa Margosari Lampung, radio komunitas Putra Asli Margosari (PAM) FM  diselenggarakan atas inisiatif petani muda setempat, Ikhwan, memberi ruang para guru di desa tersebut siaran mengajar dan sudah berjalan.

Peralatan satu stasiun radio komunitas sampai mengudara sekitar Rp. 15 juta sampai Rp. 25 juta menjangkau wilayah satu kecamatan. Mahal murahnya beaya tersebut relatif tetapi masih kisaran dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) di sejumlah daerah. Radio komunitas tidak membutuhkan ruang besar, cukup  7,5 meter persegi sehingga dapat memanfaatkan ruang sekolah yang sekarang kosong atau di kantor kelurahan, Pos RW, rumah warga dan lainnya. Daya pancar radio komunitas sesuai ketentuan hanya 50 watt dengan penempatan khusus di frequensi 107. 7 FM, 107.8 FM dan 107.9 FM dengan materi siaran program pendidikan dan budaya, informasi, hiburan serta dibolehkan iklan layanan masyarakat tetapi tidak iklan komersial. Izin tidak seketat radio siaran swasta niaga walaupun tetap “ribet” maka dalam kondisi bencana covid-9 ini perlu pengertian dari pemerintah seperti KPI, balai monitor (Balmon) Kominfo dan lainnya.

Setelah stasiun radio komunitas mengudara bagaimana dengan radio penerimanya? Ada dua pengalaman dalam soal ini. Ketika membangun jaringan Radio Trijaya dan Radio Dangdut Indonesia di Sumatera Selatan tahun 2006, sebagai stasiun baru harus segera dikenal masyarakat. Ada tawaran dari seorang teman pedagang membeli radio kecil seukuran pisang goreng buatan China harganya Rp. 5.000 sebuah. Kemudian membagikan radio tersebut kepada sekitar 3000 pendengar, umumnya bekerja di ladang, kebun sawit, karet dan berjualan di pasar. Pengalaman lainnya,  ketika bencana tsunami melanda Aceh tahun 2004, kru Trijaya Medan dan Jakarta diberangkatkan menuju lokasi bencana membangun stasiun radio darurat untuk menghibur korban bencana. Tidak ada jaringan listrik, pemancar menggunakan jenset dan sebanyak 3.500 radio penerima siaran dari Persatuan Radio Swasta Nasional Indonesia (PRSSNI) dibagikan kepada warga. Karena toko penjual batre juga lenyap akibat bencana maka radio yang dibagikan dilengkapi dinamo kecil dengan cara diengkol untuk mendapatkan daya listrik pengganti batre, buatan Korea Selatan.

Dengan adanya radio komunitas di sekitar rumah tinggal siswa dan guru maka setiap saat proses belajar menggunakan radio bisa dilakukan. Lebih menguntungkan karena guru yang mengajar adalah guru dan siswa yang sudah saling mengenal. Untuk menambah pemahaman terhadap materi yang diajarkan sebelumnya radio komunitas bisa memutar rekaman berulang kali. Sehingga siswa yang tidak sempat mengikuti pelajaran tetap bisa mendengarkan rekaman dan yang belum paham bisa kembali mendengarkan. Untuk komunikasi pertanyaan belajar siswa bisa tulis pada kertas,  mengirim ke studio radio tidak jauh dari rumah. Besok guru akan menjawab setelah membaca pertanyaan.****

Eddy Koko

(Mantan Pemred Radio Trijaya Networks)

 

artikel dimuat Koran Sindo edisi 8 sept 2020

https://bit.ly/ePaperKoranSindo_200908

Show More

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close