PERS DAN MEDIA

Radio pada Revolusi Industri 4.0

Eddy Koko (Mantan Pemred dan SM Radio Trijaya Networks)

DEMAM Revolusi Industri 4.0 mulai terjadi. Ada yang memandang peristiwa tersebut sebagai ancaman sehingga harus bersiap diri. Ada yang santai saja, seperti sebagian tukang ojek pangkalan, yakin masih ada penumpang. Untuk tukang seminar lain lagi. Ini proyek baru untuk ditawarkan ke berbagai perusahaan dan departemen seraya berprolog, jika kita tidak siap bisa nyungsep. Semua ada benarnya.

Suatu sore, diskusi kecil kalangan radio pun terjadi di kedai Roti Cane Gempol, Bandung. Diskusi tidak resmi antara teman praktisi radio ini sebetulnya sering dilakukan.

Sambil senda gurau terlemparlah topik, bagaimana masa depan radio siaran? Debat panas terkait nasib radio pun terjadi. Menariknya adalah kesepakatan bahwa sikap terhadap revolusi hampir setiap saat terjadi dalam mengelola radio.

Radio pada dasarnya media unik. Jika banyak media cetak tutup karena ditabrak era digital, tidak demikian dengan radio. Matinya banyak radio sejak dahulu karena pengelola tidak kreatif.

Kehadiran era internet bukan menjadi alasan tumbangnya sebuah stasiun radio. Zaman digital seharusnya menjadikan radio semakin merajalela menembus batas negara dengan leluasa.

Jika sebelumnya radio hanya bisa didengar melalui frekuensi udara dan ditangkap menggunakan radio transistor sekarang melalui jaringan internet. Jika dulu bersusah payah menyampaikan siaran dari kota ke desa atau sebaliknya, kini radio daerah bisa didengar ke seluruh dunia.

Dahulu kala orang mendengarkan siaran radio yang dipancarkan dari jauh menggunakan gelombang pendek atau Short Wave (SW) seperti Radio BBC, Radio Nederland, Radio Australia, dan lainnya. Kualitas suara gelombang SW kadang timbul tenggelam dan tidak jernih.

Siaran menggunakan Frekuensi Modulation (FM), seperti yang dikenal sekarang, sangat jernih sehingga suara musik stereo enak didengar. Tetapi, kelemahan gelombang FM tidak mampu melompati penghalang seperti gedung tinggi atau bukit.

Upaya stasiun radio menyapa pendengarnya di tempat tidak terjangkau terus dilakukan. Itu sebab ada stasiun relay, seperti dimiliki Radio Republik Indonesia (RRI), untuk menyambung siaran dari pusat atau Jakarta.

Radio siaran swasta baru mampu melakukan siaran berjaringan (relay) menggunakan radio satelit (worldspace) yang muncul pada awal tahun 2000-an. Sistem radio satelit ini tergolong mahal sehingga tidak populer kemudian lenyap.

Sekarang siaran radio bisa didengar melalui internet atau streaming. Receiver atau alat penerima tidak lagi dalam bentuk radio transistor, tetapi melalui komputer atau telepon pintar. Dengan cara ini siaran radio bisa dinikmati lebih banyak orang dan betul-betul di mana pun berada.

Siaran dari Jakarta atau desa kecil terpencil selama ada jaringan internet akan bisa didengar sampai ke penjuru dunia. Radio tidak lagi disiarkan dan didengar sebatas izin balai monitoring (Balmon)-nya Kominfo yang ditakuti banyak pengelola radio.

Idealnya sebuah stasiun radio memiliki studio dengan pemancar berfrekuensi kemudian ditangkap menggunakan radio penerima, selanjutnya dilebarkan melalui internet dalam bentuk streaming. Tetapi, mengurus izin penggunaan frekuensi dan biaya mendirikan stasiun radio bukan perkara mudah dan murah.

Panjang tahapannya serta mahal peralatannya. Maka itu, saat ini siaran radio menggunakan sistem streaming atau aplikasi komputer menjadi salah satu pilihan murah, cepat, dan modern.

Seseorang yang memiliki kegemaran cuap-cuap atau siaran radio sangat diuntungkan pada era Revolusi Industri 4.0. Ingin menjadi penyiar cukup menyediakan ruangan seukuran kamar mandi rumah sangat sederhana ditambah meja kecil untuk meletakkan mixer amplifier, laptop/komputer dengan microphone, selanjutnya sambungkan ke internet untuk di-streaming-kan. Tidak perlu izin Balmon Kominfo.

Selama isi siarannya menghibur dan mendidik tidak meresahkan masyarakat, bukan konten porno atau ajaran terlarang, dipastikan akan aman. Mau suka putar musik jazz, dangdut, sampai mendalang semalam suntuk bisa.

Mau elok lagi siarannya? Tambahlah kamera agar pendengar bisa mendengarkan suara sekaligus melihat wajah penyiarnya dengan aktivitas dalam studio.

Jika dahulu penyiar legendaris RRI, Sazli Rais berceritera, sedang di kamar mandi karena menginap di studio, tiba-tiba operator teriak saatnya siaran warta berita jam tujuh pagi sambil masih pakai handuk lari menuju depan mikrofon langsung mengudara, sekarang tidak bisa lagi. Penyiar era milenial bukan hanya didengar suaranya, tetapi juga dilihat penampilan dan kecerdasannya.

Meskipun era berubah, tetapi sifat radio sebagai media pendidikan, informasi, hiburan, dan propaganda tidak berubah. Bahkan, sebagai media yang “personal” tidak bisa hilang.

Misalkan ucapan khas radio, lagu ini saya kirimkan kepada Pak Prabowo atau Pak Jokowi dengan ucapan selamat menyimak lagu Suwe Ora Jamu. Sifat radio yang mampu menembus wilayah karena tidak mampu ditembus media lain dengan cepat tetap melekat.

Satu peran lagi pada radio adalah bisa dijadikan sebagai media penangkal berita bohong karena sifatnya segera. Ketika beredar isu tidak benar, maka radio bisa dengan segera mengabarkan hasil wawancara kepastian isu tadi dengan pihak berkompeten secara langsung.

Maka itu, radio zaman now makin luas jaringan dan siarannya. Siaran radio bisa ditangkap di mana pun di dunia ini dengan mudah. Tetapi, mati hidupnya stasiun radio kembali pada kreativitas pengelola radio itu sendiri.

Jika pola pikir pengelolanya tidak mengikuti zaman, maka wassalam. Sebab sejatinya radio dipaksa berubah oleh pendengarnya sendiri yang terus berubah. Adu kreativitas pada masa sekarang sangat ketat dan tidak terelakkan karena orang kampung dan kota memiliki peluang sama dalam waktu yang sama.

Tulisan ini dimuat di Koran Sindo edisi Rabu 20 Maret 2019

Link : https://nasional.sindonews.com/read/1388411/18/radio-pada-revolusi-industri-40-1553066474/20

 

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Close
Close