Caleg & Dukungan

TEMAN yang Nyaleg, pagi-pagi berkisah, katanya, ia mula menghadapi banyak orang datang yang mengatakan siap mendukung serta memenangkannya dalam pertarungan Pileg. Padahal sang Caleg belum turun ke daerah melakukan sosialisasi, tetapi berita mengenai pencalegannya sudah menyebar. Bagus dong!

Banyak, sangat banyak, anggota masyarakat yang menganggap Caleg adalah manusia berduit. “Mosok Nyaleg nggak punya duit. Ngapusi!? “ Begitu suara-suara yang sering terdengar di lapangan.

Maka,”berbondonglah” mereka datang bertandang. Setiap hari, selalu saja ada yang datang untuk sowan dan kenalan. Ada yang bercerita pernah jadi tim sukses dan kalah, serta tidak sedikit juga yang menyodorkan proposal kegiatan ini-itu, yang katanya, punya massa ratusan bahkan ribuan orang. Ada juga yang menawarkan tanahnya dibeli buat investasi. Yang terakhir memang nggak nyambung, apa hubungan Caleg sama beli tanah?

Menghadapi situasi seperti itu, memang repot.  Nggak Caleg baru, nggak Caleg lama, banyak dihadapkan pada persoalan seperti ini, ketika orang datang memohon dan menyatakan siap membantu.

Menolak mereka yang datang, khawatir dukungan berkurang. Tapi jika memenuhi permintaanya, jumlahnya berjibun. Biasanya, begitu yang satu dilayani, maka akan makin banyak lagi yang datang, karena pendatang awal dinilai telah sukses. Sukses “nyedot” duit Caleg.

Lalu bagaimana seorang Caleg harus bersikap? Hemat saya,  kembali ke awal saja, niatnya jadi anggota dewan, kan menyalurkan aspirasi rakyat. Bukan cari gaji semata. Bukan juga cari kedudukan. Sampaikan kepada rakyat secara tulus dan jelas niat menjadi anggota dewan. Kalau rakyat yakin dengan niat kita, mewakilkan kita, niscaya mereka akan mendukung.

Apakah ada rakyat yang masih yakin kepada niat seseorang menjadi anggota dewan akan bekerja sesuai janjinya? Yakinlah masih banyak. Ya, banyak. Tinggal bagaimana kita bisa meyakinkan rakyat melalui beragam cara dan media. Kalau sudah diyakinkan, tapi rakyat masih merasa tidak percaya, ya, mau gimana lagi? Mau main uang? Main uang sebetulnya, juga tidak jaminan untuk sukses.

Lebih bagus perbanyaklah menyapa dan bergaul dengan rakyat. Persoalannya, tiba-tiba seseorang baru menyapa rakyat saat Nyaleg. Selain rakyat bisa menebak maunya Caleg juga relatif telat. Sosialisasi hanya enam bulan sangatlah singkat. Mustinya sudah dilakukan jauh-jauh tahun.

Tapi bagaimana mungkin banyak dukungan dan bisa menang tanpa uang? Ah, faktanya banyak kok, Caleg yang beruang juga keok. Bukan hanya yang masih anggota dewan , bahkan seorang ketua dewan pun kedodoran alias gagal. *EK

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close